

Pukul 22.00 WIB, layar gawai di genggaman Reyhan masih memantulkan angka-angka indikator yang terus bergerak naik secara gila-gilaan. Laju penambahan angka itu laksana air bah yang mendobrak bendungan digital.
+50.000 pengikut baru
1,2 juta tayangan.
“Keren banget, Pak Guru! Idola generasi sekarang! Mengajarpujianstetika tingkat tinggi!”
Kolom komentar di akun TikTok milik Reyhan dipenuhi puja-puji dari netizen perkotaan. Reyhan, 25 tahun, adalah guru muda mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA Bintang Kejora, sebuah sekolah swasta menengah di pusat Jakarta. Dalam enam bulan terakhir, wajahnya kerap viral karena ia rajin membuat konten video berdurasi pendek tentang keseruan metode belajarnya di kelas. Ruang kelasnya ditata dengan lampu sinematik hangat, transisi video yang lincadieluh-elukansik latar yang sedang populer. Ia menjelma menjadi guru influencer kota yang dielu-elu netizen.
Namun malam ini, di dalam kamarnya yang sepi, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal memecah euforia angka-angka viral tersebut.
“Pak Reyhan, tolong hapus video TikTok yang Bapak unggah tadi sore. Di menit ke-01.12, wajah adik saya, Siti, terlihat menangis saat Bapak menjadikannya contoh anak yang tidak bisa melafalkan kata bahasa Inggris dengan benar demi kebutuhan komedi konten Bapak. Semalam di rumah, Siti mengunci diri di kamar. Dia malu karena teman-teman sekelasnya menjadikannya bahan rundungan di grup WhatsApp menggunakan potongan video Bapak.”
Pesan dari kakak kandung Siti itu terbaca dingin, menusuk langsung ke ulu hati Reyhan. Di balik kilau matriks digital yang memuja kreativitasnya, ada satu nyawa nyata yang malam ini sedang meratapi remuknya harga diri. Pendar layar ponselnya yang semula menghangatkan egonya, mendadak berubah menjadi kilatan lampu interogasi yang kejam.
Atmosfer kelas sebelas pagi itu terasa berbeda bagi Reyhan. Ruangan yang biasanya riuh oleh celetukan anak-anak muda kini terasa pekak oleh kecanggungan yang kaku. Lampu cincin dan tongkat narsis yang biasa ia pasang di sudut meja guru kini tergeletak bisu di dalam tas kainnya. Ia tidak memiliki keberanian untuk mengeluarkan kamera gawainya. Lensa kamera yang biasanya ia pandang sebagai jendela menuju popularitas, kini terasa laksana sepasang mata serangga yang dingin dan menguliti moralitasnya.
Di baris paling belakang, Siti duduk menunduk dalam-dalam. Anak perempuan berkacamata tebal dari keluarga sederhana itu tampak terpaku menatap buku tulisnya yang kosong. Matanya sembap merah, menyiratkan sisa tangis semalaman. Biasanya, Siti adalah anak yang selalu menyimak pelajaran dengan takzim, meski ia memiliki kesulitan artikulasi dalam pelafalan bahasa asing akibat kondisi fisik bibirnya yang sedikit kaku. Di hari-hari biasa, Siti akan berusaha keras menirukan vokal bahasa Inggris yang dicontohkan Reyhan, mengabaikan tatapan aneh teman-temannya demi sebaris pemahaman baru. Namun hari ini, binar di matanya telah padam, digantikan oleh ketakutan yang dalam terhadap sekelilingnya.
Reyhan berjalan lambat menuju meja guru, melintasi koridor sempit di antara barisan meja kayu. Setiap derap langkah kakinya di atas ubin semen terasa berat, seolah-olah lantai kelas sedang menagih kembali kesucian fungsi yang selama ini ia abaikan. Di dalam kepalanya, pertempuran batin sedang berkecamuk dengan hebat.
Dunia digital kota besar telah menjebaknya ke dalam candu baru bernama validasi netizen. Demi mengejar algoritma internet yang menyukai konten emosional atau komedi, ia diam-diam telah mengorbankan privasi dan harga diri muridnya sendiri. Ia menyulap ruang kelas yang sakral menjadi panggung sandiwara demi mendapatkan kesepakatan sponsor komersial dari merek-merek gawai yang menjanjikannya penghasilan tambahan di luar gaji guru yang pas-pasan. Ia mengingat kembali bagaimana ia mengedit video sore kemarin—memotong bagian Siti yang kesulitan mengeja, menambahkan efek suara tawa tiruan, dan mengatur transisi yang lincah demi sebuah lelucon berdurasi lima belas detik. Di layar ponsel, konten itu melahirkan jutaan jempol pujian. Di dunia nyata, konten itu menghancurkan keberanian seorang anak manusia.
“Pak Reyhan,” kepala sekolah mendadak muncul di ambang pintu kelas dengan senyum lebar, memegang sebuah map berlogo agensi periklanan digital kota. “Bagus sekali video kemarin, transisinya sangat estetik! Ini ada tawaran kerja sama dari merek susu pintar untuk membuat video ulasan di kelas kita minggu depan. Anggarannya lumayan besar untuk kas sekolah.”
Reyhan menatap map kertas mengilap itu, lalu beralih menatap Siti yang semakin menenggelamkan kepalanya di balik tumpukan buku kerja. Lembar-lembar kontrak kerja sama itu mendadak tampak laksana surat perjanjian gadai atas moralitasnya sendiri. Rasa muak yang teramat sangat mendadak membakar dada Reyhan—rasa muak terhadap dirinya sendiri yang telah melacurkan profesi suci ini demi seonggok angka views dan nominal rupiah digital.
“Maaf, Pak Kepala Sekolah,” kata Reyhan. Suaranya terdengar berat dan tegas, mengejutkan seluruh isi kelas. “Mulai hari ini, kelas saya adalah zona bebas kamera. Saya membatalkan semua kontrak kerja sama konten di ruangan ini.”
Kepala sekolah tertegun, wajahnya berubah masam penuh gurat kecewa sebelum akhirnya melangkah pergi dengan hentakan kaki yang kaku. Beberapa murid berbisik-bisik di barisan tengah, bingung karena sandiwara harian yang biasa mereka tonton di depan kelas mendadak dihentikan secara sepihak.
Reyhan berjalan ke arah sudut belakang kelas, menggeser sebuah kursi kayu, lalu duduk tepat di sebelah Siti. Di bawah tatapan bingung murid-murid lain yang mematung, Reyhan membuka gawainya sendiri di depan Siti. Jemari tangannya bergerak tanpa ragu, menekan tombol ‘Hapus Akun Permanen’ pada profil media sosialnya yang memiliki ratusan ribu pengikut itu.
Dalam satu klik yang dingin, seluruh video estetik, komparasi ribuan komentar pujian netizen, dan popularitas instannya lenyap menguap ke dalam udara kota yang penuh debu. Tidak ada lagi statistik yang bergerak naik. Tidak ada lagi notifikasi getar yang memuja kreativitasnya. Layar ponselnya kembali bersih, menampilkan antarmuka awal yang kosong dan legam.
Siti mendongak, sepasang matanya yang bulat menatap layar gawai Pak Reyhan dengan kerutan tebal di dahi.
“Pak Guru… kenapa dihapus? Akun Bapak kan bagus, banyak sekali orang yang suka,” bisik Siti lirih dengan artikulasinya yang kaku.
Reyhan tersenyum hangat, setitik air mata penyesalan merebak di sudut matanya. Ia mengambil sebatang pensil kayu biasa milik Siti, lalu meletakkannya dengan takzim di atas buku tulis anak itu.
“Karena nilai sejati seorang guru tidak pernah ditentukan oleh jumlah likes atau komentar dari orang-orang asing di internet, Siti,” ucap Reyhan dengan ketulusan yang murni tanpa kepura-puraan di depan lensa kamera. “Tugas Bapak di sini adalah memastikan kamu bisa mengeja kata dengan berani di dunia nyata, bukan menjadikan kekuranganmu sebagai tontonan gratis demi validasi netizen. Maafkan Pak Reyhan, ya?”
Siti menatap gurunya selama beberapa detik yang panjang. Guratan cemas dan ketakutan yang sejak semalam mencengkeram wajahnya perlahan-lahan mencair, digantikan oleh sebuah senyuman lebar dan tulus yang paling bersih—sebuah senyuman murni yang tidak butuh filter estetika atau pencahayaan lampu kamera untuk terlihat indah di mata dunia.
Di atas kertas kalkulasi indikator performa digital kementerian di kota besar, keputusan Reyhan menghapus akunnya mungkin dianggap sebagai langkah mundur yang merugikan publikasi citra modernitas sekolah di media sosial. Sistem kota menyukai guru-guru yang pandai bersandiwara di depan kamera. Namun di dalam ruang kelas sebelas yang sunyi tanpa pendar layar gawai ini, melalui sebatang pensil kayu dan sebuah permintaan maaf yang jujur, Reyhan menyadari satu hal: esensi tertinggi dari mengajar di era digital bukan tentang bagaimana menjadi populer di layar ponsel jutaan orang, melainkan tentang kesiapan untuk melindungi martabat dan jiwa satu orang murid yang ada di depan mata. Ia membalikkan badannya menghadap papan tulis, memegang sebatang kapur tulis baru, dan mulai mengajar dengan esensi kemanusiaan yang sesungguhnya.
Bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi dari arah selasar koridor luar. Anak-anak bergegas merapikan tas mereka tanpa ada lagi instruksi transisi video yang lincah dari Reyhan. Mereka pulang dalam ritme yang biasa, murni, dan sunyi.
Reyhan mematikan lampu kelas setelah murid terakhir melangkah keluar dari gerbang. Di dalam tas kainnya, peralatan kameranya tetap tersimpan mati. Ia melangkah menyusuri trotoar Jalan Sudirman yang mulai padat oleh kepulan asap knalpot dan pendar lampu papan reklame LED raksasa yang angkuh memajukan visual kota. Kota ini mungkin akan terus melesat, menciptakan panggung-panggung sandiwara barunya, menuntut setiap manusia memamerkan kebahagiaan buatan demi sebaris validasi anonim. Namun malam ini, saat ia meraba saku celananya dan merasakan ponselnya yang dingin tanpa getar teror komentar, Reyhan tahu batinnya telah kembali pulang mendiami rumah pengabdiannya yang sejati.
Banjarnegara, 20 September 2026
Penyunting: Arief Kurniawan























Beri Balasan