Tahun-tahun berlalu seperti dedaunan yang gugur. Kunjungan mereka mulai jarang. Sekali sebulan, lalu sekali setahun, hingga akhirnya berhenti sama sekali. Aku menunggu. Rafflesia-ku mekar dan layu tanpa saksi. Burung-burungku bernyanyi tanpa pendengar. Aku meyakinkan diri bahwa mereka akan kembali.
Lintang–gadis remaja pengantar kopi–akhirnya muncul kembali. Berjalan pelan-pelan menuntun Kaki Buyut, sosok yang dinanti dua belas tamu pria. Tiga kursi mahoni langsung lega ketika mereka berdiri, lalu bergantian menyalami secara takzim. Setelah Kaki Buyut melungguh, Lintang memisahkan diri menuju tikar, bersimpuh menghadap televisi.
Satwa dan puspa teman kehidupan Mereka pupus napas kita tertahan Hiduplah berdampingan tanpa mengacaukan Berhenti merusak ciptaan Tuhan
/Prakata/ Sebermula kami dapati nafsu rengkah di bumi mutiara hitam dada kami tak lagi resah menghadang bahala akan bayang-bayang distopia yang dapat kapan saja menumpahkan apokaliptik dan kecahkan digdaya alam hingga tak lagi tersisa sezarah pun masa depan kami temui.
Setelah datang musim pemburu terkenang habis sebatang bakau riuh. Telinga yang telah lekat dengan kicauan, alunan deburan, hingga deru mesin kapal pemecah sunyi malam.
Sebelum kita melukis peradaban, kita adalah tanah yang mencintai akar. Ranum asih tak terapal hanya dari bibir, tapi dari laku yang mengecup kelapangan. Meringkuk tubuh pada syukur sujud, memeluk rumput yang tak pernah kering dibasuh warna hijau Tuhan— tempat mata menakar pandang hanya pada kedamaian, hanya pada kepermaian.
Di tengah semak belukar, tanah-tanah merah melukis jejak para pemilik telapak kaki mungil. Dibuatnya di atas permukaan licin, menjadi bukti yang mempertontonkan satu-persatu bayi terperosok, kala berlarian merebut mata dalam memandang jendela dunia.
Buletin ini kami susun untuk menghadirkan gambaran utuh mengenai kontestasi PEMILWA FMIPA UB 2025. Kami berharap sajian berita, liputan utama, dan analisis di dalamnya dapat membantu warga MIPA melihat isu-isu fundamental yang selama ini tersembunyi di balik dinamika organisasi. Lebih dari itu, kami ingin mendorong seluruh mahasiswa untuk menyadari bahwa suara mereka bukan sekadar angka dalam e-vote , tetapi bentuk kesadaran politik yang menentukan arah perubahan di FMIPA.
Dalam sejarahnya, berpikir kritis menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya masyarakat yang rasional dan berkeadaban. Berpikir kritis bukan sekadar kemampuan menganalisis, tetapi juga keberanian mempertanyakan hal-hal yang dianggap “biasa”. Ia menuntut logika, keberanian moral, dan empati sosial agar kita tidak terperangkap dalam arus opini tanpa arah. Sejarah membuktikan, banyak perubahan besar lahir dari pikiran yang berani menolak kebungkaman.
Simpang siur mengenai ilmu terapan lebih menjamin masa depan dibandingan dengan ilmu murni telah menjadi perbincangan yang lebih didengungkan karena kebutuhan keterampilan praktis manusia di berbagai bidang kehidupan. Namun, benarkah ilmu terapan lebih menjamin masa depan dibandingkan ilmu murni? Bagaimana ketertarikan dan dinamika di antara keduanya?































Ada Pertanyaan?
Temukan Kami di Media Sosial atau Hubungi Kami dan kami akan merespons segera.