Persepsi Mahasiswa terhadap Jurusan Saintek dan Soshum dalam Menentukan Kesuksesan Karier 

Malang – Stigma mahasiswa Saintek lebih unggul dalam hal pendidikan dan dunia pekerjaan dari pada mahasiswa Soshum masih sangat kuat dan sering ditemukan di sekitar kita, terlebih di media sosial yang sering membanding-bandingkan betapa banyak dibutuhkannya lulusan saintek di dunia kerja daripada Soshum yang bisa tergantikan oleh lulusan Saintek. Padahal mendapatkan pekerjaan di zaman sekarang tidak hanya dari rumpun Saintek atau Soshum yang mereka pilih, melainkan ada beberapa faktor yang memang dibutuhkan oleh perusahaan seperti skill yang memang mumpuni dan pengalaman yang sudah mereka kuasai.

Mahasiswa Saintek sedang melakukan praktikum di Laboratorium -Ahmadi, 2024 

Maka dari itu, dengan adanya persaingan dunia pendidikan dan kerja yang semakin ketat, muncul pertanyaan klasik di kalangan mahasiswa. Apakah jurusan kuliah benar-benar menentukan kesuksesan karier seseorang?

Dilakukannya wawancara di lingkungan kampus Universitas Brawijaya pada tanggal 26 April – 3 Mei 2026 guna mendapatkan jawaban dan kesimpulan dalam masalah ini terhadap sejumlah mahasiswa dari rumpun Saintek dan Soshum menunjukkan mayoritas responden sepakat bahwa kesuksesan karier tidak lagi bersifat linier dengan jurusan yang diambil. Kemampuan individu dalam mengembangkan keterampilan, pengalaman, relasi, serta beradaptasi justru menjadi faktor yang jauh lebih berpengaruh.

Dewi, mahasiswi Ilmu Komunikasi, menegaskan bahwa indikator kesuksesan setiap orang berbeda dan tidak bisa disamaratakan berdasarkan rumpun ilmu.

“Tidak ada rumpun yang pasti gagal. Semua kembali pada bagaimana kita beradaptasi di lingkungan kerja dan mengaplikasikan ilmu dari kampus,” ujar Dewi. Menurut Dewi, industri saat ini bersifat lintas sektor dan saling membutuhkan.

“Perusahaan otomotif butuh anak Saintek untuk teknisi, tapi juga butuh Soshum untuk HRD atau akuntansi. Begitu pula di agensi kreatif, peluang untuk anak Saintek tetap terbuka tergantung bidangnya,” jelasnya.

Kompetensi Menggeser Stereotip “Kasta Jurusan”

Dalam hal ini stereotip “kasta jurusan” sudah mulai memudar. Dunia kerja saat ini lebih menghargai kompetensi, soft skills, dan portofolio nyata dibandingkan label jurusan di ijazah. Hal ini yang seharusnya diperkuat oleh mahasiswa guna mampu dalam bersaing dalam dunia kerja sesuai dengan porsi dan kebutuhan perusahaan masing-masing.

“Paling utama itu koneksi dan kemampuan, karena percuma kenal banyak orang jika mereka tidak tahu kapasitas kita. Selain itu, butuh mental kuat agar tidak jumawa, serta faktor keberuntungan yang mengiringi usaha keras,” papar Keihan.

Kegiatan pembelajaran untuk Mahasiswa Soshum di kelas – Yoshimuralab.

Jurusan sebagai Fasilitas, Bukan Batasan. Umumnya jurusan memang sebagai dasar langkah pertama untuk mahasiswa mencari potensi diri masing-masing, bukan satu-satunya alat yang mereka andalkan setelah lulus untuk mencari kerja. Karena tingginya angka kelulusan sarjana maka akan semakin sempit mereka dalam mencari pekerjaan. Maka dari itu mengetahui potensi diri untuk mempersiapkan diri dalam dunia kerja sangatlah penting juga memperluas koneksi guna menambah relasi.

Sebagai tambahan, Keihan mahasiswa pendidikan teknologi informasi menekankan agar mahasiswa mengubah cara pandang terhadap fungsi jurusan. Jurusan tidak boleh dianggap sebagai batasan akademis, melainkan sebagai penyedia fasilitas awal. Maka manfaatkan jurusan yang telah dijalani dengan bijak untuk mempersiapkan diri menempuh pekerjaan yang sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki.

“Tentukan tujuan belajar sejak awal. Jurusan adalah penyedia akses dan privilege, tapi bukan berarti kita hanya boleh belajar hal itu-itu saja. Jangan menutup diri,” tegas Keihan, yang juga menambahkan pentingnya disiplin, dedikasi, dan konsistensi.

Melalui penelitian sederhana ini, mahasiswa dan calon mahasiswa diharapkan dapat memilih jurusan berdasarkan minat dan potensi diri, bukan karena gengsi. Sejalan dengan hal itu, Dewi berpesan agar mahasiswa lebih berani melihat peluang luas di platform profesional seperti LinkedIn atau Jobstreet. Karena banyak kesempatan tidak datang dengan sendirinya.

“Bukan passion kalian. Sekarang banyak lowongan yang tidak memandang jurusan dan lintas karier itu sangat mungkin terjadi. Asalkan percaya diri dan punya pengalaman yang cukup, coba saja,” pungkas Dewi. 

Reporter: Nike Tiara Ananda, Nikma ‘Abidatul Ma’isyah, Rere Devina, Yusuf Fadhillah Apriyanto
Penulis: Na’ilah Husna Nur Asiyah 
Editor: M. Akrom Haqqani Dwikuntoro