Malang - Lima mahasiswa Program Studi S1 Matematika Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya menggelar kegiatan sosialisasi dan diskusi bersama mahasiswa UB asal Madura di Gazebo Raden Wijaya, Universitas Brawijaya, Senin (27/4/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa UB terhadap pentingnya sikap toleransi dan inklusi di lingkungan kampus.
Malang – Stigma mahasiswa Saintek lebih unggul dalam hal pendidikan dan dunia pekerjaan dari pada mahasiswa Soshum masih sangat kuat dan sering ditemukan di sekitar kita, terlebih di media sosial yang sering membanding-bandingkan betapa banyak dibutuhkannya lulusan saintek di dunia kerja daripada Soshum yang bisa tergantikan oleh lulusan Saintek. Padahal mendapatkan pekerjaan di zaman sekarang tidak hanya dari rumpun Saintek atau Soshum yang mereka pilih, melainkan ada beberapa faktor yang memang dibutuhkan oleh perusahaan seperti skill yang memang mumpuni dan pengalaman yang sudah mereka kuasai.
KEDIRI – Suasana kelas VI SDN Manisrenggo pada suatu pagi terasa berbeda. Gelak tawa dan semangat siswa memenuhi ruangan saat sekelompok mahasiswa Program Studi Matematika, Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya mengajak mereka berdiskusi mengenai hal yang sangat dekat dengan keseharian: bagaimana hidup rukun di tengah perbedaan.
Malang – Penggunaan umpatan di kalangan Generasi Z tidak lagi selalu berkaitan dengan kemarahan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Departemen Matematika Universitas Brawijaya menemukan bahwa kata-kata seperti "anjir", "anjay", dan "jir" kini lebih sering digunakan sebagai ekspresi kekaguman, humor, hingga penanda keakraban dalam komunikasi sehari-hari di media sosial.
Malang – Pendidikan karakter seseorang tidak selalu dibentuk melalui ruang kelas formal melainkan dapat dilakukan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten di kehidupan sehari-hari. Rumah Belajar Rembulan di Malang menjadi salah satu bukti bahwa pendekatan semacam itu bekerja. Rumah Belajar Rembulan merupakan lembaga bimbingan nonformal yang dikelola oleh mahasiswa penerima beasiswa Bank Rakyat Indonesia (BRI) (Bright Scholarship) Batch 10 Universitas Brawijaya. Program ini menjadi salah satu bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa binaan BRI dalam memberikan kontribusi nyata di bidang pendidikan bagi anak-anak sekitar lingkungan asrama mereka.
Di balik layar penerimaan murid baru, terdapat sistem yang tidak sederhana. Siswa tidak hanya bersaing melalui kemampuan akademik, tetapi juga harus masuk dalam jalur yang sesuai, berada di wilayah yang tepat, dan memenuhi ketentuan administrasi yang telah ditetapkan pemerintah. Bagi mereka yang tinggal di wilayah tertentu atau berasal dari keluarga kurang mampu, sistem ini dapat menjadi jalan masuk menuju pendidikan. Namun, pada saat yang sama, sistem tersebut juga dapat menjadi hambatan baru apabila tidak berjalan merata.
Kebebasan berpendapat merupakan hak fundamental yang dijamin oleh konstitusi di negara Indonesia. Pasal 28E ayat (3) dan Pasal 28F UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa setiap warga negara berhak menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui berbagai saluran. Jaminan ini diperkuat oleh UU No. 9 Tahun 1998 dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang menempatkan kebebasan berpendapat sebagai pilar utama suatu demokrasi. Secara normatif, tidak ada alasan bagi negara untuk membungkam suara kritis rakyatnya, karena kritik justru menjadi alat kontrol kekuasaan.
Sebagai pohon jati yang menghuni hutan di lereng pegunungan, aksi tewas-menewaskan ini lazim terjadi. Namun, sebagai seorang anak pohon jati, aku tetap sedih. Bagaimanapun, mereka keluargaku. Sama seperti anak-anak penduduk desa yang pulang ke pangkuan orang tua saat matahari mulai tenggelam. Meski aku tidak bisa memeluk Bapak maupun Ibu, aku juga tetap butuh kehadiran mereka. Tapi, Ibu bilang jangan terlalu sedih. Bapak dan Ibu serta mayat lain yang digotong jiwa-jiwa kami tidak akan berakhir sia-sia. Selamanya, kami tidak akan mati sia-sia. Kami bisa berguna untuk mengisi rumah-rumah mereka, bermanfaat untuk mereka. Lagi pula, kami hidup juga karena mereka. Tanpa seleksi mereka, kami akan semakin rakus, membiarkan yang lain membusuk karena kekurangan makanan. Kami bisa jadi monster untuk satu sama lain. Jadi, kami tidak bisa hidup tanpa manusia, begitu pun sebaliknya. Kami adalah jiwa-jiwa mereka. Mereka adalah jiwa-jiwa kami.
Pulau Haruku, mutiara yang terapung di pelukan Kepulauan Maluku, adalah sepotong surga yang dibentuk oleh tangan waktu dan dijaga oleh nyanyian laut. Airnya sebening kristal, memantulkan tarian cahaya matahari yang jatuh lembut di permukaan. Di bawahnya, terumbu karang berkilauan, membentuk istana bawah laut bagi kawanan ikan yang berenang seperti serpihan pelangi. Penyu hijau melintas anggun, sementara kuda laut menari di antara anemon yang bergoyang anggun. Hutan bakau melindungi pantai, akar-akar mereka menjuntai seperti tangan yang merangkul laut.
Cendrawasih itu kebingungan, memikirkan apa yang terjadi dalam benaknya. Kebingungan itu berubah menjadi keterkejutan setelah kesadaran datang kepadanya. Ini bukan yang pertama kalinya, bukan juga kedua kalinya, melainkan ini adalah yang ketiga kalinya. Jantungnya berdegup kencang, Cendrawasih itu bangun dan mengepakkan sayapnya untuk terbang mencari kebenaran keadaannya saat ini. Dalam keheningan di udara ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Semakin ia mencoba untuk mengingat semakin rendah terbangnya. Cendrawasih itu mulai mengingat, ingatan pertama langsung menyeretnya untuk kembali ke kehidupan yang ia jalani.































Ada Pertanyaan?
Temukan Kami di Media Sosial atau Hubungi Kami dan kami akan merespons segera.