
Bagi sebagian masyarakat pedesaan, singkong bukanlah tanaman yang asing. Umbinya diolah menjadi berbagai makanan, daunnya dimanfaatkan sebagai sayuran, sementara batangnya kerap dijadikan kayu bakar atau bibit untuk musim tanam berikutnya. Namun, tidak semua bagian tanaman singkong memperoleh perlakuan yang sama. Di banyak tempat, termasuk di Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, kulit singkong selama ini lebih sering berakhir sebagai limbah yang dibuang begitu saja. Padahal, di balik tumpukan limbah tersebut tersimpan potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kulit singkong yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata masih dapat diolah menjadi produk yang lebih berguna, bahkan berpotensi menjadi sumber energi alternatif bagi masyarakat.
Bagi masyarakat Desa Pandansari Lor, singkong bukan sekadar tanaman pangan biasa. Sebagian besar wilayah desa didominasi oleh lahan pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat masih banyak bergantung pada sektor pertanian serta hasil bumi. Di antara berbagai komoditas yang dihasilkan, singkong menjadi salah satu tanaman yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak sedikit warga yang menanam, mengolah, maupun menjual hasil olahan singkong sebagai bagian dari aktivitas ekonomi keluarga. Desa ini bahkan telah memiliki berbagai bentuk pemanfaatan berbasis singkong, mulai dari produk olahan pangan hingga kerajinan berbahan dasar batang singkong.
Meski demikian, pemanfaatan tanaman singkong masih belum menyentuh seluruh bagiannya. Sebuah kajian pengabdian masyarakat di Desa Pandansari Lor pada tahun 2023 menunjukkan bahwa sebagian besar pemanfaatan singkong masih terbatas pada umbi, batang, maupun produk olahan sederhana, sementara bagian lainnya belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya Kelompok Desa Pandansari Lor saat melakukan observasi lapangan di desa tersebut. Di tengah melimpahnya komoditas singkong dan berbagai produk turunannya, masih terdapat satu bagian tanaman yang belum banyak mendapat perhatian, yakni limbah kulit singkong.
“INOBRIK berawal dari hasil observasi tim KKN saat berada di Desa Pandansari Lor. Selama kegiatan berlangsung, kami melihat bahwa singkong menjadi salah satu komoditas yang cukup banyak diolah oleh masyarakat. Di sisi lain, kulit singkong yang dihasilkan dari proses pengolahan masih belum dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Hizkia Stefanus Adrianto, Ketua Pelaksana Program INOBRIK.

Ketua Pelaksana Program INOBRIK, Hizkia Stefanus Adrianto, menjelaskan inovasi pemanfaatan limbah kulit singkong menjadi briket sebagai energi alternatif di Desa Pandansari Lor. Dok. KKN FSTeM UB 2026 . (Dok. KKN FSTeM UB 2026)
Melihat kondisi tersebut, tim KKN mulai mencari kemungkinan pemanfaatan limbah yang selama ini belum tersentuh tersebut. Dari berbagai alternatif yang dipertimbangkan, pemanfaatan kulit singkong menjadi briket dipandang sebagai pilihan yang paling sesuai dengan kondisi dan potensi lokal desa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah yang selama ini sering dianggap tidak bernilai ternyata masih bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif yang bermanfaat,” lanjut Hizkia.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui program Teknologi Tepat Guna (TTG) bertajuk INOBRIK (Inovasi Briket Bernilai Ekonomi dari Limbah Kulit Singkong) yang dilaksanakan pada 6 Juli 2026 di Balai Desa Pandansari Lor. Melalui kerja sama antara mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya, Pemerintah Desa Pandansari Lor, dan masyarakat setempat, program ini menghadirkan pelatihan pembuatan briket berbahan dasar kulit singkong sebagai salah satu alternatif pemanfaatan limbah organik yang lebih bernilai dan ramah lingkungan.
Desa Singkong dan Potensi yang Belum Selesai
Singkong bukanlah komoditas baru bagi masyarakat Pandansari Lor. Berbagai aktivitas ekonomi masyarakat telah lama bersinggungan dengan tanaman ini, mulai dari budidaya hingga pengolahan hasil panen. Sebagai desa yang sebagian besar wilayahnya didominasi oleh lahan pertanian, masyarakat Pandansari Lor menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan hasil bumi, dengan singkong menjadi salah satu komoditas yang cukup dekat dengan keseharian warga.
Keberadaan singkong tidak hanya terlihat di lahan pertanian, tetapi juga dalam berbagai aktivitas usaha masyarakat. Sejumlah program pengabdian masyarakat sebelumnya mencatat bahwa singkong telah melahirkan berbagai bentuk pemanfaatan berbasis masyarakat di desa tersebut, mulai dari produk olahan pangan hingga kerajinan tangan. Masyarakat pernah diperkenalkan dengan pengolahan nugget singkong, es krim singkong, hingga pembuatan kerajinan berbahan dasar batang singkong yang dijadikan ikon desa. Upaya-upaya tersebut menunjukkan bahwa singkong bukan sekadar hasil panen, melainkan bagian dari potensi lokal yang terus dikembangkan oleh masyarakat Pandansari Lor.
Namun demikian, pemanfaatan tanaman singkong masih belum menyentuh seluruh bagiannya. Sebuah kajian pengabdian masyarakat di Desa Pandansari Lor pada tahun 2023 mencatat bahwa sebagian besar pemanfaatan singkong masih terbatas pada umbi, batang, maupun produk olahan sederhana, sementara bagian lainnya belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit singkong, misalnya, masih lebih sering berakhir sebagai limbah yang dibuang begitu saja setelah proses pengolahan selesai.
Padahal, apabila dilihat dari jumlah singkong yang diolah masyarakat, limbah kulit singkong yang dihasilkan tentu tidak sedikit. Sayangnya, keberadaan limbah tersebut selama ini belum banyak mendapat perhatian sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna. Kulit singkong lebih sering dipandang sebagai sisa produksi daripada bahan baku yang dapat dimanfaatkan kembali.

Limbah kulit singkong hasil pengolahan masyarakat di Desa Pandansari Lor yang selama ini sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar lahirnya program INOBRIK yang dikembangkan mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya. Dok. KKN FSTeM UB 2026
Bagi tim KKN, kondisi tersebut bukan hanya menunjukkan adanya limbah yang belum terkelola, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menciptakan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai. Dari berbagai alternatif yang dipertimbangkan, pemanfaatan kulit singkong menjadi briket dinilai sebagai pilihan yang paling relevan dengan kondisi desa karena memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar masyarakat sekaligus memperkenalkan teknologi tepat guna yang sederhana dan mudah dipahami.
Di titik inilah, cerita tentang singkong di Pandansari Lor memasuki babak baru. Jika sebelumnya masyarakat telah mengenal pemanfaatan umbi untuk pangan dan batang untuk kerajinan maupun kayu bakar, kini mahasiswa KKN mencoba memperkenalkan pemanfaatan bagian lain yang selama ini terabaikan: kulit singkong yang diubah menjadi sumber energi alternatif melalui INOBRIK.
Mengubah Limbah Menjadi Bahan Bakar
Pemilihan kulit singkong sebagai bahan utama pembuatan briket bukan tanpa alasan. Selain mudah ditemukan, bahan tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup banyak di Desa Pandansari Lor dan selama ini belum memiliki nilai ekonomi yang signifikan. Di tengah berbagai upaya pemanfaatan singkong yang telah berkembang di desa, mulai dari produk pangan hingga kerajinan berbahan batang singkong, kulit singkong justru masih menjadi bagian yang paling sering terabaikan.
“Kulit singkong dipilih karena merupakan limbah yang cukup mudah ditemukan di Desa Pandansari Lor. Selain jumlahnya cukup banyak, bahan ini juga masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi produk yang lebih berguna,” kata Hizkia.
Bagi tim KKN, kondisi tersebut bukan hanya menunjukkan adanya limbah yang belum terkelola, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menciptakan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai. Jika sebelumnya masyarakat telah mengenal pemanfaatan umbi singkong menjadi berbagai produk olahan dan batang singkong sebagai bahan kerajinan maupun kayu bakar, maka INOBRIK mencoba memperkenalkan pemanfaatan bagian lain yang selama ini jarang mendapat perhatian, yaitu kulit singkong.
Melalui program ini, mahasiswa KKN tidak hanya memperkenalkan produk baru kepada masyarakat, tetapi juga mencoba mengubah cara pandang terhadap limbah organik di sekitar mereka. Limbah yang selama ini diposisikan sebagai sisa produksi dipandang kembali sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, tim KKN terlebih dahulu melakukan serangkaian tahapan mulai dari observasi lapangan, diskusi bersama perangkat desa dan masyarakat, pencarian referensi, hingga pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi desa. Proses identifikasi potensi dan permasalahan tersebut menjadi dasar dalam menentukan program yang dinilai paling relevan untuk diterapkan di Pandansari Lor.
Setelah konsep program ditentukan, tim mulai melakukan riset dan pengembangan alat karbonisasi yang digunakan dalam proses pembuatan arang dari kulit singkong. Tahapan ini menjadi salah satu proses yang paling menantang karena alat yang dibuat harus mampu bekerja secara optimal sekaligus mudah dipahami oleh masyarakat sebagai teknologi tepat guna yang dapat diterapkan di tingkat desa.
Menurut Hizkia, tantangan terbesar justru muncul pada tahap pengembangan alat dan proses uji coba.
“Beberapa bagian alat perlu disesuaikan agar dapat berfungsi dengan baik sehingga membutuhkan beberapa kali perbaikan. Selain itu, proses uji coba pembuatan arang juga tidak selalu berhasil pada percobaan pertama sehingga tim harus mencoba beberapa kali hingga memperoleh hasil yang diharapkan,” jelasnya.

Alat karbonisasi yang dikembangkan mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya digunakan dalam proses uji coba pembuatan arang dari limbah kulit singkong sebagai bahan baku briket sebelum diterapkan kepada masyarakat. Dok. KKN FSTeM UB 2026
Tidak berhenti pada pengembangan alat, tim KKN juga melakukan beberapa kali percobaan pembuatan arang dan briket hingga memperoleh hasil yang sesuai sebelum teknologi tersebut diperkenalkan kepada masyarakat. Setelah itu, mahasiswa mulai menyusun materi pelatihan dan konsep penyampaian yang diharapkan dapat lebih mudah dipahami oleh peserta.
Tahapan tersebut kemudian bermuara pada pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan yang dilaksanakan pada 6 Juli 2026 di Balai Desa Pandansari Lor. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pandansari Lor dan diikuti oleh masyarakat desa sebagai peserta pelatihan.

Mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya memberikan sosialisasi mengenai pemanfaatan limbah kulit singkong menjadi briket kepada masyarakat Desa Pandansari Lor sebagai bagian dari pelaksanaan program INOBRIK. Dok. KKN FSTeM UB 2026
Pelatihan diawali dengan pemaparan mengenai potensi pemanfaatan limbah kulit singkong dan pentingnya pengelolaan limbah organik yang lebih berkelanjutan. Peserta kemudian diperkenalkan dengan alat karbonisasi yang telah dikembangkan oleh tim KKN beserta prinsip kerjanya dalam mengubah limbah kulit singkong menjadi arang sebagai bahan dasar pembuatan briket.
Setelah sesi sosialisasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi alat dan praktik langsung pembuatan briket bersama peserta. Masyarakat diperkenalkan pada seluruh proses produksi, mulai dari pengolahan limbah kulit singkong, proses karbonisasi, pencampuran bahan, pencetakan, hingga proses pengeringan sebelum briket siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Selain mempraktikkan proses pembuatannya, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai cara penggunaan briket, manfaat yang dapat diperoleh, serta peluang pengembangannya sebagai produk bernilai ekonomi di masa mendatang. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya menjadi sarana transfer teknologi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai bagaimana potensi lokal yang tersedia di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan secara lebih bijak dan berkelanjutan.
Melalui INOBRIK, mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya mencoba menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari teknologi yang rumit atau bahan baku yang mahal. Terkadang, solusi justru dapat ditemukan dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sisa dan tidak lagi memiliki nilai guna. Di tangan yang tepat, limbah kulit singkong yang sebelumnya berakhir sebagai sampah dapat memperoleh kehidupan baru sebagai sumber energi alternatif yang lahir dari potensi desa itu sendiri.
Teknologi Tepat Guna di Tengah Potensi Desa
Bagi Pemerintah Desa Pandansari Lor, inovasi tersebut dinilai menghadirkan alternatif pemanfaatan baru terhadap limbah yang selama ini belum memiliki pengolahan lebih lanjut. Di tengah berbagai pemanfaatan singkong yang telah berkembang di desa, mulai dari produk pangan hingga kerajinan, kulit singkong masih menjadi bagian yang jarang mendapat perhatian.
“Program ini bagus karena masyarakat bisa memanfaatkan limbah kulit singkong yang selama ini belum ada pengolahan untuk limbah tersebut,” ujar Diyah Lusifa, Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum Desa Pandansari Lor.

Kolaborasi mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya, Pemerintah Desa Pandansari Lor, dan masyarakat menjadi bagian dari pelaksanaan program INOBRIK untuk mendorong pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai sumber energi alternatif. Dok. KKN FSTeM UB 2026
Pandangan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, singkong telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pandansari Lor, baik sebagai komoditas pertanian maupun sumber penghasilan bagi sebagian warga. Namun, sebagaimana ditemukan dalam berbagai kajian pengabdian masyarakat sebelumnya, pemanfaatan tanaman singkong masih belum menyentuh seluruh bagiannya. Umbi singkong telah diolah menjadi berbagai produk, batangnya dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun kerajinan, sementara kulitnya masih lebih sering berakhir sebagai limbah. Kondisi inilah yang menjadikan INOBRIK dipandang sebagai pelengkap dari berbagai upaya pemanfaatan potensi lokal yang telah lebih dahulu berkembang di desa.
Menurut Diyah, inovasi tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut apabila mendapat dukungan dari berbagai pihak dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Insyaallah bisa dikembangkan karena selain menambah wawasan masyarakat, khususnya ibu-ibu, inovasi ini juga memiliki potensi untuk menambah pendapatan masyarakat,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa manfaat program tidak hanya dilihat dari aspek lingkungan semata, tetapi juga dari sisi pemberdayaan masyarakat. Pelatihan yang diberikan kepada warga tidak sekadar memperkenalkan produk baru, melainkan membuka kemungkinan munculnya aktivitas ekonomi baru berbasis potensi lokal desa.
Meski demikian, baik pemerintah desa maupun tim pelaksana menyadari bahwa pengembangan produk semacam ini memerlukan proses yang panjang. Pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi tidak dapat dilakukan hanya melalui satu kali pelatihan ataupun satu periode kegiatan KKN. Diperlukan keberlanjutan program, dukungan berbagai pihak, serta kemauan masyarakat untuk terus mencoba dan mengembangkan inovasi yang telah diperkenalkan.Oleh karena itu, melalui kegiatan KKN ini, fokus utama program masih berada pada pengenalan teknologi serta pemanfaatan limbah organik yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Melalui kegiatan KKN ini kami lebih berfokus pada pengenalan teknologi dan pemanfaatan limbah terlebih dahulu. Harapannya, inovasi ini dapat menjadi salah satu inspirasi bagi masyarakat apabila suatu saat ingin mengembangkan produk berbasis potensi lokal yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Hizkia.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip teknologi tepat guna, yaitu menghadirkan teknologi yang sederhana, mudah dipahami, serta sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat. Dalam konteks INOBRIK, teknologi tidak hanya dipandang sebagai alat untuk menghasilkan produk, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat agar mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar secara lebih efektif.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim KKN juga menyerahkan alat karbonisasi kepada Pemerintah Desa Pandansari Lor agar dapat dimanfaatkan kembali apabila masyarakat ingin mencoba proses pembuatan briket secara mandiri di kemudian hari. Penyerahan alat tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal agar pengetahuan yang telah diperoleh masyarakat selama pelatihan tidak berhenti bersamaan dengan berakhirnya kegiatan KKN.
Harapan serupa juga disampaikan oleh Pemerintah Desa Pandansari Lor agar inovasi ini dapat terus berkembang di masa mendatang.
“Semoga ke depan program ini dapat terus dikembangkan oleh masyarakat sekitar dengan dukungan pemerintah dan berbagai sektor sehingga dapat menambah pendapatan bagi masyarakat,” ujar Diyah.
Di titik inilah, INOBRIK tidak lagi hanya berbicara mengenai briket atau limbah kulit singkong semata. Program ini juga berbicara mengenai bagaimana potensi lokal yang selama ini terabaikan dapat memperoleh nilai baru ketika dipertemukan dengan kreativitas, pengetahuan, dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa.
Ketika Limbah Tidak Lagi Menjadi Sampah
Di berbagai daerah, pengelolaan limbah sering kali masih berhenti pada tahap pembuangan. Padahal, banyak limbah organik yang sebenarnya masih menyimpan potensi ekonomi maupun manfaat lain apabila dikelola dengan tepat. Tidak sedikit bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa produksi justru memiliki peluang untuk diolah kembali menjadi produk yang lebih bernilai.
INOBRIK mungkin belum mampu mengubah seluruh persoalan pengelolaan limbah di pedesaan. Program ini juga belum serta-merta melahirkan usaha baru atau mengubah pola pengelolaan limbah masyarakat dalam waktu singkat. Namun, setidaknya program ini menghadirkan sebuah kemungkinan baru: bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat memiliki kehidupan kedua dalam bentuk yang berbeda.
Melalui pemanfaatan kulit singkong menjadi briket, mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya mencoba memperkenalkan cara pandang baru terhadap limbah organik di sekitar masyarakat. Inovasi tidak selalu harus lahir dari teknologi yang rumit atau bahan baku yang mahal. Terkadang, solusi justru dapat ditemukan dari sesuatu yang selama ini berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi luput dari perhatian.
“Kami berharap masyarakat semakin melihat bahwa limbah organik di sekitar kita masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Tidak semua limbah harus langsung dibuang, karena dengan sedikit kreativitas dan kemauan untuk mencoba, limbah tersebut bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih berguna,” tutur Hizkia.
Harapan serupa juga disampaikan oleh Pemerintah Desa Pandansari Lor agar program tersebut tidak berhenti bersamaan dengan berakhirnya kegiatan KKN. Keberlanjutan program dinilai menjadi salah satu faktor penting agar pengetahuan dan teknologi yang telah diperkenalkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semoga ke depan program ini dapat terus dikembangkan oleh masyarakat sekitar dengan dukungan pemerintah dan berbagai sektor sehingga dapat menambah pendapatan bagi masyarakat,” ujar Diyah.
Harapan tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan. Desa Pandansari Lor sendiri telah memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan berbagai bentuk pemanfaatan singkong, mulai dari produk olahan pangan hingga kerajinan berbahan batang singkong. Kehadiran INOBRIK seolah menambah satu babak baru dalam perjalanan tersebut: upaya memanfaatkan bagian tanaman yang selama ini paling sering terabaikan, yaitu kulit singkong.
Pada akhirnya, cerita tentang INOBRIK bukan sekadar tentang briket atau kulit singkong. Ia adalah cerita tentang bagaimana potensi lokal yang selama ini terabaikan dapat menemukan nilainya kembali ketika dipertemukan dengan kreativitas, pengetahuan, dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ia juga menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar dan mahal. Kadang-kadang, perubahan justru berawal dari keberanian untuk melihat kembali apa yang selama ini dianggap biasa, lalu menemukan kemungkinan baru di dalamnya.
Di Desa Pandansari Lor, kemungkinan itu hadir dalam bentuk yang sederhana: selembar kulit singkong yang tidak lagi berakhir sebagai sampah, melainkan berubah menjadi sumber energi yang lahir dari desa itu sendiri.
Reporter: Tim KKN FSTeM Universitas Brawijaya Desa Pandansari Lor
Penulis: Muhammad Akrom Haqqani Dwikuntoro, dkk.
Penyunting: Arief Kurniawan























Beri Balasan