


Malang – Lima mahasiswa Program Studi S1 Matematika Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya menggelar kegiatan sosialisasi dan diskusi bersama mahasiswa UB asal Madura di Gazebo Raden Wijaya, Universitas Brawijaya, Senin (27/4/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa UB terhadap pentingnya sikap toleransi dan inklusi di lingkungan kampus.
Dalam kegiatan sosialisasi yang mengusung tema “Beda Akar, Tumbuh Bersama” tersebut, lima mahasiswa penggagas kegiatan ini, yaitu Inayatus Solikha, Ghea Najwa Bahira, Iftitalya Khairunnisa Hidayat, Putri Fadhilatu Nasywaa dan Ratu Risalah Rahman, melakukan diskusi terbuka mengenai pengalaman diskriminasi, stereotip, hingga tingkat inklusi etnisitas mahasiswa asal Madura di lingkungan Universitas Brawijaya.
Inaya, selaku perwakilan penggagas kegiatan, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proyek lapangan mata kuliah Pancasila yang berfokus pada isu inklusi sosial dalam keberagaman dan kehidupan sosial mahasiswa di lingkungan kampus.
“Lewat kegiatan ini, kami ingin mendengar langsung pengalaman sosial teman-teman mahasiswa, khususnya yang berasal dari Pulau Madura di UB, terutama terkait stereotip atau candaan berbasis etnis, apakah stereotip tersebut masih sering muncul di lingkungan kampus,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah mahasiswa mengaku masih sering menemui candaan maupun komentar yang berkaitan dengan stereotip terhadap orang Madura dalam kehidupan sehari-hari di kampus. Meski sering dianggap sebagai candaan, beberapa peserta menilai hal tersebut dapat menimbulkan rasa kurang nyaman apabila dilakukan secara berulang.
“Seringnya itu dijadikan bahan bercandaan gitu, cuma kan kalau terus-terusan diulang agak kurang nyaman juga ya dengernya. Kayak seolah-olah semua orang Madura itu punya karakter yang sama, keras dan temperamen,” kata Lail, salah satu peserta dalam diskusi ini.
Tak hanya candaan, kegiatan ini juga menemukan bahwa masih ada mahasiswa asal Madura yang merasa mendapatkan perlakuan berbeda dalam beberapa situasi meski tidak terjadi secara langsung. Sebagian besar dari mereka juga berpendapat bahwa hal-hal yang terlihat sepele tersebut dapat mempengaruhi kondisi psikologis mereka.
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa juga menyoroti pentingnya membangun budaya saling menghargai di lingkungan kampus. Beberapa mahasiswa menilai bahwa stereotip berbasis etnis sering kali muncul tanpa disadari dalam percakapan sehari-hari, sehingga diperlukan kesadaran bersama untuk menciptakan interaksi yang lebih inklusif.
Selain membahas pengalaman diskriminasi, kegiatan ini juga mengungkap bahwa sebagian besar mahasiswa belum memahami secara jelas regulasi sistem pelaporan diskriminasi di lingkungan Universitas Brawijaya. Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara ketersediaan sistem dan tingkat pemahaman mahasiswa terhadap mekanisme tersebut.
“Jujur selama ini saya belum tahu, biasanya saya ceritakan ke teman dekat saja. Kalau pun tahu, kayaknya saya belum berani melapor karena takut dianggap sepele, jadi lebih sering dibiarkan,” ujar Naila, salah satu peserta kegiatan ini.
Fakta ini menunjukkan bahwa selain rendahnya pemahaman, terdapat juga faktor psikologis seperti rasa sungkan dan kekhawatiran untuk melapor, yang membuat sebagian pengalaman diskriminasi tidak tersampaikan melalui jalur resmi yang tersedia di kampus.
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa berharap kesadaran mengenai pentingnya inklusi etnisitas dapat terus meningkat di lingkungan kampus. Tidak hanya sebatas wacana, tetapi juga tercermin dalam interaksi sehari-hari, sehingga tercipta ruang akademik yang lebih aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh mahasiswa tanpa terkecuali.
Penulis: Inayatus Solikha
Reporter: Ghea Najwa Bahira, Putri Fadhilatu Nasywaa, Ratu Risalah Rahman, Iftitalya Khairunnisa Hidayat
Editor: M. Akrom Haqqani Dwikuntoro























Beri Balasan