

KEDIRI – Suasana kelas VI SDN Manisrenggo pada suatu pagi terasa berbeda. Gelak tawa dan semangat siswa memenuhi ruangan saat sekelompok mahasiswa Program Studi Matematika, Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya mengajak mereka berdiskusi mengenai hal yang sangat dekat dengan keseharian: bagaimana hidup rukun di tengah perbedaan.
Melalui kegiatan sosialisasi tentang nilai kesatuan dan kesetaraan, para mahasiswa berupaya menanamkan pemahaman bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang perlu dijaga bersama. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila sekaligus kontribusi nyata mahasiswa dalam membentuk karakter generasi muda.
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan bahasa. Di tengah kondisi tersebut, nilai kesatuan dan kesetaraan menjadi fondasi penting agar masyarakat dapat hidup harmonis. Oleh karena itu, penguatan karakter mengenai kedua nilai ini perlu dikenalkan sejak dini, terutama melalui lingkungan pendidikan.
Alih-alih menyampaikan materi secara formal dan satu arah, tim mahasiswa memilih pendekatan yang lebih akrab dengan anak-anak. Berbagai metode pembelajaran aktif diterapkan agar siswa dapat memahami konsep yang disampaikan dengan mudah dan menyenangkan.
Kegiatan diawali dengan storytelling yang mengangkat kisah sederhana tentang persahabatan dan kerja sama. Melalui cerita tersebut, siswa diajak memahami bahwa setiap individu memiliki latar belakang berbeda, namun tetap dapat saling membantu dan menghargai. Tak sedikit siswa yang kemudian mengaitkan cerita itu dengan pengalaman pribadi mereka saat bermain atau belajar bersama teman-teman di sekolah.
Selanjutnya, siswa mengikuti sesi problem-based learning. Dalam kegiatan ini, mereka diberikan berbagai situasi yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana bersikap saat memiliki teman yang berbeda pendapat atau cara menyelesaikan konflik kecil dalam kelompok belajar. Dengan penuh semangat, para siswa menyampaikan pendapat dan solusi mereka secara bergantian.
Media visual yang menarik turut digunakan untuk memperjelas materi. Gambar, ilustrasi, dan contoh-contoh sederhana membuat konsep kesatuan dan kesetaraan terasa lebih nyata. Siswa tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil pengamatan, pendekatan interaktif menjadi faktor penting dalam keberhasilan kegiatan ini. Para siswa cenderung lebih mudah memahami materi ketika diberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif, dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan.
Menariknya, nilai-nilai kesatuan dan kesetaraan sebenarnya sudah tampak dalam keseharian siswa SDN Manisrenggo. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mengamati adanya budaya gotong royong yang kuat di antara para siswa. Mereka terbiasa bekerja sama dalam kelompok, saling membantu saat mengalami kesulitan, dan berinteraksi tanpa memandang perbedaan latar belakang.
Lingkungan sekolah yang beragam menjadi modal penting dalam membentuk karakter peserta didik. Namun, tantangan perkembangan zaman tak bisa diabaikan. Kemajuan teknologi dan penggunaan media sosial yang semakin luas berpotensi memengaruhi cara anak-anak memandang perbedaan. Karena itu, pendidikan karakter perlu terus diperkuat secara berkelanjutan agar nilai-nilai positif yang telah tumbuh tetap terjaga.
Keberhasilan sosialisasi ini juga terlihat dari hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test terhadap 28 peserta. Sebelum kegiatan dimulai, rata-rata nilai siswa adalah 8,39. Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, rata-rata nilai meningkat menjadi 9,71. Artinya, terjadi peningkatan pemahaman sebesar 14,82 persen.
Meskipun angka tersebut menunjukkan hasil positif, dampak yang paling terasa justru terlihat dari respons siswa selama sesi diskusi. Mereka tampak lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat mengenai pentingnya menghargai perbedaan. Beberapa siswa bahkan mampu memberikan contoh nyata tentang bagaimana mereka menerapkan sikap toleransi di lingkungan sekolah maupun rumah.
Antusiasme peserta menjadi gambaran bahwa pendidikan karakter dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna. Bagi para mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga kesempatan untuk berkontribusi langsung dalam membentuk generasi muda yang berkarakter kuat.
Melalui sosialisasi ini, mahasiswa Universitas Brawijaya berharap nilai-nilai kesatuan dan kesetaraan terus tumbuh dalam diri siswa. Dengan pemahaman yang baik mengenai pentingnya menghargai keberagaman, anak-anak diharapkan mampu menjadi pribadi yang toleran, adil, dan menjunjung tinggi semangat persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah keberagaman yang menjadi identitas bangsa Indonesia, langkah-langkah kecil seperti yang dilakukan di SDN Manisrenggo membuktikan bahwa pendidikan karakter tetap memiliki peran penting. Berawal dari ruang kelas sederhana, benih-benih persatuan ditanamkan dengan harapan kelak tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga keharmonisan dan memperkuat persatuan bangsa.
Penulis: Kholifatul Qouliyah, dkk.























Beri Balasan