All Eyes on Rafah: Genosida Pertama yang Disiarkan Secara Langsung dan Dunia Masih Menyangkal

Ilustrasi: Aprilla Ragil Argiyani 

Sudah 8 bulan terhitung sejak Israel memulai genosida yang mereka lakukan terhadap warga Palestina. Sejak saat itu pula tagar-tagar dukungan untuk Palestina dan desakan gencatan senjata untuk Israel bermunculan dan trending di media sosial. Boikot-boikot telah dilakukan terhadap produk-produk dari perusahaan yang telah terbukti menunjukkan dukungan mereka terhadap Israel. Aksi-aksi demonstrasi pengecaman terhadap Israel dan sekutu untuk segera menghentikan genosida juga telah dilaksanakan di seluruh penjuru dunia. Namun, semua tindakan tersebut seperti tidak pernah berpengaruh terhadap Israel dan malah membuat mereka semakin membabi buta menyiksa dan membunuh warga tidak bersalah di Palestina.

Sejarah panjang aksi perebutan tanah yang Israel klaim sebagai tanah yang “dijanjikan” kepada mereka telah dimulai sejak abad ke-19 saat Kongres Zionis Pertama yang dipimpin oleh Theodor Herzl dilaksanakan pada 29-31 Agustus 1897. Kongres tersebut menghasilkan kesepakatan yaitu gerakan mendirikan negara Yahudi di Palestina dengan sokongan sumber dana yang kuat dari bankir-bankir Yahudi di Eropa. Dengan sokongan dana tersebut, para imigran Yahudi mulai membeli dan menduduki tanah-tanah warga Arab yang telah tinggal berabad-abad di Palestina.

Semenjak dipilihnya kembali Benjamin Netanyahu sebagai perdana menteri Israel pada November 2022, pemerintahan koalisi yang dibentuknya dengan kelompok sayap kanan Israel mulai melakukan tindakan semena-mena seperti memperluas pemukiman ilegal Yahudi di West Bank atau Tepi Barat, Palestina. Tak hanya itu, tentara-tentara Israel yaitu The Israel Defense Forces (IDF) atau Pasukan Pertahanan Israel sering melakukan provokasi di Masjidil Aqsa dan secara rutin melakukan penggerebekan di Tepi Barat yang mengakibatkan tewasnya ratusan warga Palestina. Jumlah warga Palestina yang mereka tahan tanpa proses hukum juga semakin melonjak hingga mencapai 5.000 orang pada awal 2023.

Dengan alasan untuk menghentikan aksi-aksi jahat Israel tersebut, para pejuang dari kelompok Muslim Palestina terbesar yang menguasai Jalur Gaza, Hamas (Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah atau secara harfiah berarti Gerakan Perlawanan Islam), menembus perbatasan Israel dalam Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023. Mereka menyerang pos-pos militer dan pemukiman Israel di mana Israel memberikan klaim bahwa serangan tersebut mengakibatkan sekitar 1.200 warganya terbunuh. Hamas juga menawan ratusan warga Israel yang dijanjikan akan mereka bebaskan dan kembalikan kepada keluarga mereka asalkan Israel mau untuk menghentikan seluruh aksi-aksi kejam mereka terhadap warga Palestina.

Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober tersebut, Israel kemudian melancarkan bombardir paling brutal dalam sejarah serangan mereka terhadap Gaza. Serangan ini memenuhi unsur-unsur kejahatan perang dan genosida seperti membunuh warga sipil yang tidak bersalah dan menghancurkan bangunan-bangunan sipil tanpa pandang bulu. Tak hanya itu, mereka juga memutus aliran listrik, air bersih, makanan, bahan bakar, dan telekomunikasi di Gaza. Hingga sekarang, Israel melakukan semua serangan tersebut dengan dalih pembelaan diri mereka atas serangan yang telah Hamas lakukan. 

United Nations (UN) atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai organisasi internasional yang seharusnya bertugas untuk menghentikan masalah yang sedang terjadi seperti tutup mata dan hanya bisa memberikan peringatan-peringatan yang hanya terdengar seperti formalitas agar kecaman dunia atas ketidakbecusan mereka berkurang. Bukti-bukti bahwa mereka dengan jelas melakukan genosida telah bertebaran di media sosial hingga detik ini. Namun, tak hanya PBB, negara-negara berpengaruh yang seharusnya dapat menghentikan Israel juga seakan tutup mata dan hanya mengeluarkan pernyataan-pernyataan peringatan formalitas yang tidak pernah digubris oleh Israel.

Pada 29 Desember 2023, Afrika Selatan menjadi satu-satunya negara yang berani menyeret Israel ke pengadilan Mahkamah Internasional atau International Court of Justice (ICJ) di Den Haag, Belanda atas dakwaan genosida genosida dan kejahatan perang di Jalur Gaza. Tindakan terpuji yang mereka lakukan ini tak luput dari pengaruh Nelson Mandela, mantan presiden mereka yang terkenal mengabdikan hidupnya untuk melawan apartheid dan memberantas rasisme di Afrika Selatan. Seperti yang Mandela pernah katakan bahwa kemerdekaan Afrika Selatan tidak lengkap tanpa kemerdekaan Palestina, Afrika Selatan terbukti mencerminkan semangat Mandela hingga saat ini. Tuntutan mereka membuahkan beberapa hasil yang diumumkan pada 26 Januari 2024 di mana salah satunya yaitu perintah resmi dari Mahkamah Internasional kepada Israel agar melakukan semua langkah untuk segera menghentikan genosida di Jalur Gaza, Palestina. Sayangnya, gugatan ini tidak menghasilkan putusan perintah gencatan senjata dan lagi-lagi pada kenyataannya, Israel tidak menaati putusan tersebut dan tetap tanpa henti menyiksa dan membunuh warga Palestina. Tidak adanya sanksi dari PBB setelah kejadian tersebut menambah bukti bahwa PBB memang tidak serius dalam mengatasi genosida yang dilakukan Israel.

Dalam satu bulan terakhir, muncul tagar ‘All Eyes on Rafah’ yang trending di media sosial sebagai dukungan publik dunia kepada Palestina. Dari pantauan CNBC Indonesia, pada 29 Mei 2024, tagar ‘All Eyes on Rafah’ memuncaki trending topik media sosial X dengan total lebih dari 966.000 cuitan. Menurut New York Times, ungkapan “All Eyes on Rafah” kemungkinan besar dipopulerkan oleh Rik Peeperkorn, kepala kantor Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) untuk Gaza dan Tepi Barat. Ia menyampaikan komentar tersebut pada bulan Februari lalu sebagai tanggapan terhadap operasi militer Zionis di Gaza selatan. Tagar ini mulai populer setelah Israel melancarkan serangan udara ke kamp pengungsian di Kota Rafah.

Rafah merupakan kota perbatasan antara Gaza dan Mesir. Kota ini menampung lebih dari 1,4 juta warga Palestina yang mengungsi akibat agresi brutal Israel. Sejak 7 Oktober, Rafah telah menjadi satu-satunya jalur bagi dunia internasional untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina di Gaza. Pada Minggu, 26 Mei 2024 setidaknya 45 warga Palestina yang tidak bersalah tewas dan 200 lainnya terluka di kamp pengungsian di Rafah akibat kebakaran hebat yang disebabkan oleh serangan udara Zionis. Israel berdalih bahwa serangan tersebut menargetkan kompleks Hamas, dengan dua pejabat senior Hamas diklaim tewas dalam serangan itu. Mayoritas negara di dunia mengutuk keras serangan Israel ini, terutama karena terjadi hanya beberapa hari setelah Mahkamah Internasional (ICJ) memerintahkan Israel untuk menghentikan operasi militernya di Rafah. Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Daniel Hagari, berdalih bahwa mereka tidak menduga serangan tersebut akan mengenai kamp pengungsian dan dengan teganya hanya menyebut serangan ini sebagai sebuah ketidaksengajaan. Tak peduli dengan kecaman global, pada Selasa 28 Mei 2024, pasukan Zionis kembali menyerang kamp pengungsian di barat Rafah dan mengakibatkan tewasnya 21 warga Palestina. Namun, militer Israel lagi-lagi berdalih dan membantah bahwa mereka bukan pelaku serangan di kawasan Al-Mawasi tersebut.

Serangan-serangan Israel ke Rafah mengakibatkan Mesir menutup perbatasan dan menghentikan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza. Kota yang seharusnya menjadi zona aman seluruh warga Palestina pun tak luput dari serangan keji Israel. Seruan ‘All Eyes on Rafah’ mengajak masyarakat global untuk tidak mengabaikan genosida yang berlangsung di Gaza. Dunia diminta untuk lebih memperhatikan dan selalu memantau secara cermat situasi di Kota Rafah, kota harapan terakhir seluruh warga Palestina.

Yang paling terbaru pada hari Jumat, 7 Juni 2024, Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan, mengumumkan melalui media sosial bahwa PBB telah menambahkan Israel ke dalam “daftar hitam” atau blacklist negara-negara yang melakukan kekerasan terhadap anak dalam konflik bersenjata. Pemberitahuan resmi tersebut disampaikan langsung kepadanya oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Langkah ini diambil ketika IDF telah membunuh lebih dari 15.500 anak-anak Palestina. Israel tanpa malu memberikan tanggapan bahwa tentara mereka adalah tentara yang paling bermoral di dunia. Tak lupa mereka juga mengutuk Sekjen PBB yang mereka tuduh memberi insentif dan mendorong terorisme, dimotivasi oleh kebencian terhadap Israel. Kekejian Israel sepertinya memang hanya akan berhenti ketika PBB dan negara-negara berpengaruh di dunia dengan serius turun tangan melindungi Palestina dan melawan Israel, tidak malah menghindar dan hanya mengeluarkan pernyataan formalitas dukungan terhadap Palestina yang hanya akan dianggap angin lalu oleh Israel.

Aksi-aksi pembelaan kepada Palestina di media sosial sungguh berpengaruh dalam membuka mata warga dunia untuk melihat dan membongkar propaganda dan kejahatan yang selama ini telah dilakukan oleh Israel kepada Palestina. Selalu ingat ungkapan yang terus menggema di media sosial sejak genosida di Palestina dimulai, kita hanya perlu menjadi manusia untuk membela Palestina. Walaupun tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan seperti menaikkan tagar gencatan senjata di media sosial dan memboikot publik figur atau produk-produk dari perusahaan yang mendukung Israel sepertinya tidak berarti dalam usaha untuk memerdekakan Palestina, jangan berhenti dan tetap lakukan aksi-aksi tersebut tanpa lelah. Karena meskipun tindakan tersebut ternyata memang tidak berpengaruh sama sekali dalam memerdekakan Palestina, kita telah menunjukkan bahwa kita berdiri di sisi yang benar dalam sejarah.  

Penyunting: Arief Kurniawan

Referensi: 

‘All Eyes on Rafah’ Surges on Social Media After a Deadly Israeli Strike. (2024). Diakses dari https://www.nytimes.com/2024/05/29/world/middleeast/all-eyes-on-rafah.html

Apa Arti Gerakan All Eyes on Rafah yang Viral di Medsos?. (2024). Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240530080645-134-1103599/apa-arti-gerakan-all-eyes-on-rafah-yang-viral-di-medsos

Fakta All Eyes on Rafah: Arti, Asal Mula Viral, dan Konteksnya. (2024). Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/tech/20240529122619-37-542084/fakta-all-eyes-on-rafah-arti-asal-mula-viral-dan-konteksnya

Poin-Poin Penting Putusan ICJ usai Afrika Selatan Menang Gugat Israel. (2024). Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240126203103-120-1054977/poin-poin-penting-putusan-icj-usai-afrika-selatan-menang-gugat-israel 

Sejarah Lengkap Penjajahan Israel atas Palestina. (2023). Diakses dari https://republika.id/posts/47141/sejarah-lengkap-penjajahan-israel-atas-palestina

UN adding Israel to ‘blacklist’ of countries harming children in conflict. (2024). Diakses dari https://www.aljazeera.com/news/2024/6/7/un-adding-israel-to-blacklist-of-countries-harming-children-in-conflict 

What is ‘All eyes on Rafah’? Decoding a viral social trend on Israel’s war. (2024). Diakses dari https://www.aljazeera.com/news/2024/5/29/what-is-all-eyes-on-rafah-decoding-the-latest-viral-social-trend