PUISI: Aku Ingin Bertanya…
![]() |
| sumber: gambar |
![]() |
| sumber: gambar |
Temukan Kami di Media Sosial atau Hubungi Kami dan kami akan merespons segera.
Cendrawasih itu kebingungan, memikirkan apa yang terjadi dalam benaknya. Kebingungan itu berubah menjadi keterkejutan setelah kesadaran datang kepadanya. Ini bukan yang pertama kalinya, bukan juga kedua kalinya, melainkan ini adalah yang ketiga kalinya. Jantungnya berdegup kencang, Cendrawasih itu bangun dan mengepakkan sayapnya untuk terbang mencari kebenaran keadaannya saat ini. Dalam keheningan di udara ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Semakin ia mencoba untuk mengingat semakin rendah terbangnya. Cendrawasih itu mulai mengingat, ingatan pertama langsung menyeretnya untuk kembali ke kehidupan yang ia jalani.
Tahun-tahun berlalu seperti dedaunan yang gugur. Kunjungan mereka mulai jarang. Sekali sebulan, lalu sekali setahun, hingga akhirnya berhenti sama sekali. Aku menunggu. Rafflesia-ku mekar dan layu tanpa saksi. Burung-burungku bernyanyi tanpa pendengar. Aku meyakinkan diri bahwa mereka akan kembali.
Lintang–gadis remaja pengantar kopi–akhirnya muncul kembali. Berjalan pelan-pelan menuntun Kaki Buyut, sosok yang dinanti dua belas tamu pria. Tiga kursi mahoni langsung lega ketika mereka berdiri, lalu bergantian menyalami secara takzim. Setelah Kaki Buyut melungguh, Lintang memisahkan diri menuju tikar, bersimpuh menghadap televisi.
Satwa dan puspa teman kehidupan Mereka pupus napas kita tertahan Hiduplah berdampingan tanpa mengacaukan Berhenti merusak ciptaan Tuhan
Situs Web Kabarbasic.com dikelola oleh Lembaga Pers Mahasiswa Basic
Surel: admin@kabarbasic.com
Our website uses cookies to improve your experience. Learn more about: Cookie Policy
Beri Balasan