Temukan Kami di Media Sosial atau Hubungi Kami dan kami akan merespons segera.
Sebelum kita melukis peradaban, kita adalah tanah yang mencintai akar. Ranum asih tak terapal hanya dari bibir, tapi dari laku yang mengecup kelapangan. Meringkuk tubuh pada syukur sujud, memeluk rumput yang tak pernah kering dibasuh warna hijau Tuhan— tempat mata menakar pandang hanya pada kedamaian, hanya pada kepermaian.
Sebagai pohon jati yang menghuni hutan di lereng pegunungan, aksi tewas-menewaskan ini lazim terjadi. Namun, sebagai seorang anak pohon jati, aku tetap sedih. Bagaimanapun, mereka keluargaku. Sama seperti anak-anak penduduk desa yang pulang ke pangkuan orang tua saat matahari mulai tenggelam. Meski aku tidak bisa memeluk Bapak maupun Ibu, aku juga tetap butuh kehadiran mereka. Tapi, Ibu bilang jangan terlalu sedih. Bapak dan Ibu serta mayat lain yang digotong jiwa-jiwa kami tidak akan berakhir sia-sia. Selamanya, kami tidak akan mati sia-sia. Kami bisa berguna untuk mengisi rumah-rumah mereka, bermanfaat untuk mereka. Lagi pula, kami hidup juga karena mereka. Tanpa seleksi mereka, kami akan semakin rakus, membiarkan yang lain membusuk karena kekurangan makanan. Kami bisa jadi monster untuk satu sama lain. Jadi, kami tidak bisa hidup tanpa manusia, begitu pun sebaliknya. Kami adalah jiwa-jiwa mereka. Mereka adalah jiwa-jiwa kami.
Di tengah semak belukar, tanah-tanah merah melukis jejak para pemilik telapak kaki mungil. Dibuatnya di atas permukaan licin, menjadi bukti yang mempertontonkan satu-persatu bayi terperosok, kala berlarian merebut mata dalam memandang jendela dunia.
Pulau Haruku, mutiara yang terapung di pelukan Kepulauan Maluku, adalah sepotong surga yang dibentuk oleh tangan waktu dan dijaga oleh nyanyian laut. Airnya sebening kristal, memantulkan tarian cahaya matahari yang jatuh lembut di permukaan. Di bawahnya, terumbu karang berkilauan, membentuk istana bawah laut bagi kawanan ikan yang berenang seperti serpihan pelangi. Penyu hijau melintas anggun, sementara kuda laut menari di antara anemon yang bergoyang anggun. Hutan bakau melindungi pantai, akar-akar mereka menjuntai seperti tangan yang merangkul laut.
Situs Web Kabarbasic.com dikelola oleh Lembaga Pers Mahasiswa Basic
Surel: admin@kabarbasic.com
Our website uses cookies to improve your experience. Learn more about: Cookie Policy
Beri Balasan