

Malang – Pendidikan karakter seseorang tidak selalu dibentuk melalui ruang kelas formal melainkan dapat dilakukan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten di kehidupan sehari-hari. Rumah Belajar Rembulan di Malang menjadi salah satu bukti bahwa pendekatan semacam itu bekerja. Rumah Belajar Rembulan merupakan lembaga bimbingan nonformal yang dikelola oleh mahasiswa penerima beasiswa Bank Rakyat Indonesia (BRI) (Bright Scholarship) Batch 10 Universitas Brawijaya. Program ini menjadi salah satu bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa binaan BRI dalam memberikan kontribusi nyata di bidang pendidikan bagi anak-anak sekitar lingkungan asrama mereka.

Menariknya, nilai disiplin dan adab di rumah belajar ini tidak diajarkan melalui aturan tertulis yang mengikat maupun sanksi tegas. Para pengajar lebih mengutamakan pendekatan komunikasi, keteladanan, dan pembiasaan dalam aktivitas sehari-hari.
“Sebenernya kita tidak punya aturan tertulis yang mengikat secara ketat. Komunikasi sehari-hari itu mengandalkan grup WhatsApp, misal untuk mengirimkan jadwal belajar sebagai pengingat,” ujar Gilda Kenya Susanto mahasiswa prodi Perpajakan Universitas Brawijaya, narasumber dari Rumah Belajar Rembulan.

Para pengajar yang telah mengabdi selama kurang lebih 1,5 tahun mengandalkan komunikasi dan kesepakatan bersama melalui grup WhatsApp, seperti pengiriman jadwal belajar sebagai pengingat. Persoalan inilah yang menjadi perhatian kami sebagai mahasiswa Program Studi S1 Matematika, Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM), Universitas Brawijaya. Kegiatan sosialisasi pada hari Jumat, 24 April 2026 menjadi momen penting bagi Rumah Belajar Rembulan, karena dalam sesi selama 30 menit tersebut, anak-anak diajak untuk memahami apa arti nilai disiplin melalui metode yang menyenangkan, seperti diskusi kecil dan permainan tebak-tebakan bergambar.
Pada sesi penyampaian materi, dikaitkan dengan nilai-nilai agama antara lain disiplin waktu sebagai cerminan rasa syukur, disiplin belajar sebagai bentuk ibadah dalam menuntut ilmu, serta disiplin menjaga kebersihan dan ketertiban sebagai bagian dari akhlak mulia. Diskusi kecil menjadi ajang bagi anak-anak bercerita tentang kebiasaan sehari-hari mereka yang sudah menunjukkan sikap disiplin. Satu per satu mereka mengangkat tangan, ada yang bercerita tentang kebiasaan sholat tepat waktu, ada pula yang mengaku sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah sebelum bermain. Kegiatan dialnjutkan dengan sesi games, anak-anak diminta memilih gambar yang menunjukkan sikap disiplin, misalnya gambar anak bangun pagi tepat waktu dibandingkan dengan anak yang bangun kesiangan dan terburu-buru.

Momen yang paling menunjukkan keberhasilan terjadi saat pembagian snack di akhir kegiatan. Anak-anak secara spontan mengantre dengan sabar menunggu giliran, tanpa berebut atau saling mendorong. Perilaku antre tersebut menjadi bukti nyata bahwa penanaman nilai disiplin menunjukkan keberhasilan, meskipun dalam skala kecil. Kesediaan mereka mengantre mencerminkan pemahaman bahwa disiplin bukan sekadar teori, tetapi juga dapat dilakukan melalui kehidupan sehari-hari.

Menariknya, kebiasaan-kebiasaan sederhana ini ternyata selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Pembiasaan berdoa bersama sebelum dan sesudah belajar merupakan wujud nyata sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kebiasaan mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih serta sikap sopan santun dalam berinteraksi mencerminkan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sementara itu, kesediaan mengantre dengan tertib menunjukkan pengamalan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Rumah Belajar Rembulan membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak memerlukan ruang kelas formal atau aturan yang keras. Keteladanan yang konsisten, lingkungan yang suportif, dan kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari terbukti mampu membentuk fondasi karakter warga negara yang baik.
Reporter : Jingga Tiara Nurdin, Najwa Faisyah
Penulis : Jeannisa Jannah, Natasya Novelina Siagian, Yuni Lestari Mawardi
Penyunting: Arief Kurniawan























Beri Balasan