Normalisasi Penggunaan Kata-Kata Kasar di Kalangan Generasi Z dalam Komunikasi Digital di Indonesia

Anak muda berkumpul sambil menggunakan smartphone

Malang – Penggunaan umpatan di kalangan Generasi Z tidak lagi selalu berkaitan dengan kemarahan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Departemen Matematika Universitas Brawijaya menemukan bahwa kata-kata seperti “anjir”, “anjay”, dan “jir” kini lebih sering digunakan sebagai ekspresi kekaguman, humor, hingga penanda keakraban dalam komunikasi sehari-hari di media sosial.

Penelitian bertajuk “Normalisasi Umpatan dalam Budaya Populer Gen Z: Observasi Pengaruh Media Sosial terhadap Tata Krama Berbahasa” tersebut dilakukan melalui wawancara terhadap sejumlah pengguna aktif media sosial dari kalangan Generasi Z. Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi terhadap interaksi pengguna pada platform TikTok, Instagram, dan X.

Zita, salah satu responden mengaku menggunakan ungkapan seperti “njir keren banget ini” ketika melihat sesuatu yang menarik di media sosial. Ia juga menyatakan kalimat “lucu banget anjir” sebagai reaksi spontan ketika melihat sesuatu yang menghibur. Menurutnya, kata-kata tersebut bukan digunakan untuk menghina orang lain, melainkan untuk mengekspresikan rasa kagum, terkejut, atau senang.

Temuan tersebut menunjukkan adanya pergeseran fungsi umpatan di kalangan Gen Z. Jika sebelumnya kata-kata kasar identik dengan kemarahan atau konflik, kini sebagian responden menggunakannya sebagai pelengkap percakapan santai dengan teman sebaya. Peneliti menemukan bahwa umpatan juga digunakan sebagai bentuk candaan, pujian, hingga penanda kedekatan dalam hubungan pertemanan.

“Menurutku keakraban itu lebih ditentukan dari kenyamanan dan cara kita saling menghargai, bukan dari penggunaan kata-kata kasar,” ujar Zita. Ia menambahkan bahwa penggunaan umpatan yang berlebihan justru dapat membuat percakapan terasa kurang sopan atau tidak nyaman bagi sebagian orang.

Media sosial telah menjadi bagian rutin dari kehidupan sehari-hari bagi banyak anak muda Indonesia.

Meski demikian, tidak semua responden memiliki kebiasaan yang sama. Beberapa narasumber mengaku hampir tidak pernah menggunakan kata-kata kasar, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu responden mengatakan dirinya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang membiasakan penggunaan bahasa santun sehingga tidak terbiasa menggunakan umpatan dalam komunikasi.

“Ga pernah berkata kasar sejenis ‘anjir’ atau ‘cuk’. Mentok-mentok kalau ada orang ngeselin pakai ‘bodoh’ atau ‘sialan’,” kata Adel. Ia mengaku hanya menggunakan kata-kata tersebut ketika benar-benar berada pada tingkat kekesalan yang tinggi.

Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar umpatan yang digunakan telah mengalami pelunakan bentuk. Kata-kata seperti “anjir”, “anjay”, dan “jir” dipilih karena dianggap lebih ringan dibanding bentuk aslinya. Menurut peneliti, fenomena tersebut menunjukkan adanya upaya pengguna untuk tetap mengekspresikan emosi tanpa sepenuhnya meninggalkan norma kesopanan yang berlaku.

Responden melaporkan menghabiskan beberapa jam setiap hari di platform seperti TikTok, Instagram, dan X.

Terkait pengaruh media sosial, mayoritas responden mengaku sering mengonsumsi konten dari kreator digital. Namun, mereka menilai kreator konten bukan faktor utama yang menentukan kebiasaan berbahasa. Sebagian besar responden menyatakan bahwa nilai keluarga, lingkungan sosial, dan prinsip pribadi memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan figur yang mereka tonton di internet.

“Saya menonton mereka hanya sebagai hiburan saja, jadi tidak terlalu mempengaruhi cara bicara saya,” ujar Quinn ketika menjelaskan pengaruh kreator konten yang sering ia tonton.

Penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan perilaku berbahasa antara dunia digital dan dunia nyata. Beberapa responden mengaku lebih bebas menggunakan umpatan saat berkomunikasi di media sosial karena tidak adanya kontak langsung dengan lawan bicara. Sebaliknya, ketika berbicara dengan orang tua, dosen, atau figur yang dihormati, mereka cenderung menggunakan bahasa yang lebih terkontrol.

Salah satu responden bahkan mengaku pernah secara refleks mengucapkan kata “anjay” di depan orang tuanya. “Langsung kaget sendiri dan buru-buru minta maaf. Sejak itu jadi lebih hati-hati,” tuturnya.

Peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan umpatan di kalangan Generasi Z bersifat kontekstual dan tidak dapat langsung dipandang sebagai kemerosotan tata krama berbahasa. Sebaliknya, fenomena tersebut menunjukkan perubahan fungsi bahasa dalam ruang digital, di mana makna suatu kata semakin ditentukan oleh konteks, hubungan sosial, dan tujuan komunikasi penggunanya.

Reporter: Erlandi Aflah Firjatullah, Elfandra Fatkul Imama, Tsaqif Arva Maulana, Muhammad Hafidh Araffi
Penulis: Heribertus Yudhowono Arnyamori Kualan
Editor: Amirah Nada Quranique