Pulau Haruku, mutiara yang terapung di pelukan Kepulauan Maluku, adalah sepotong surga yang dibentuk oleh tangan waktu dan dijaga oleh nyanyian laut. Airnya sebening kristal, memantulkan tarian cahaya matahari yang jatuh lembut di permukaan. Di bawahnya, terumbu karang berkilauan, membentuk istana bawah laut bagi kawanan ikan yang berenang seperti serpihan pelangi. Penyu hijau melintas anggun, sementara kuda laut menari di antara anemon yang bergoyang anggun. Hutan bakau melindungi pantai, akar-akar mereka menjuntai seperti tangan yang merangkul laut.

Cendrawasih itu kebingungan, memikirkan apa yang terjadi dalam benaknya. Kebingungan itu berubah menjadi keterkejutan setelah kesadaran datang kepadanya. Ini bukan yang pertama kalinya, bukan juga kedua kalinya, melainkan ini adalah yang ketiga kalinya. Jantungnya berdegup kencang, Cendrawasih itu bangun dan mengepakkan sayapnya untuk terbang mencari kebenaran keadaannya saat ini. Dalam keheningan di udara ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Semakin ia mencoba untuk mengingat semakin rendah terbangnya. Cendrawasih itu mulai mengingat, ingatan pertama langsung menyeretnya untuk kembali ke kehidupan yang ia jalani. 

Buletin ini kami susun untuk menghadirkan gambaran utuh mengenai kontestasi PEMILWA FMIPA UB 2025. Kami berharap sajian berita, liputan utama, dan analisis di dalamnya dapat membantu warga MIPA melihat isu-isu fundamental yang selama ini tersembunyi di balik dinamika organisasi. Lebih dari itu, kami ingin mendorong seluruh mahasiswa untuk menyadari bahwa suara mereka bukan sekadar angka dalam e-vote , tetapi bentuk kesadaran politik yang menentukan arah perubahan di FMIPA.

Dalam sejarahnya, berpikir kritis menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya masyarakat yang rasional dan berkeadaban. Berpikir kritis bukan sekadar kemampuan menganalisis, tetapi juga keberanian mempertanyakan hal-hal yang dianggap “biasa”. Ia menuntut logika, keberanian moral, dan empati sosial agar kita tidak terperangkap dalam arus opini tanpa arah. Sejarah membuktikan, banyak perubahan besar lahir dari pikiran yang berani menolak kebungkaman.

Simpang siur mengenai ilmu terapan lebih menjamin masa depan dibandingan dengan ilmu murni telah menjadi perbincangan yang lebih didengungkan karena kebutuhan keterampilan praktis manusia di berbagai bidang kehidupan. Namun, benarkah ilmu terapan lebih menjamin masa depan dibandingkan ilmu murni? Bagaimana ketertarikan dan dinamika di antara keduanya?