PEMILWA MIPA, Akankah Berujung Aklamasi ?
| (DPM memimpin sidang MUMF) |
| (DPM memimpin sidang MUMF) |
Temukan Kami di Media Sosial atau Hubungi Kami dan kami akan merespons segera.
Tak dapat dipungkiri bahwa manusia kerap berhadapan dengan berbagai dorongan dalam dirinya yang dapat memengaruhi cara ia bertindak. Keinginan, amarah, dendam, iri hati, maupun dorongan seksual dapat muncul secara spontan. Namun, persoalan moral muncul ketika manusia membiarkan dorongan tersebut menguasai dirinya tanpa berpikir dan mempertimbangkan akibatnya bagi orang lain. Berbagai kasus pemerkosaan, pelecehan, penganiayaan, hingga pembunuhan menunjukkan bagaimana seseorang dapat kehilangan kendali atas dirinya dan mengabaikan bahwa di hadapannya ada manusia lain yang memiliki hak dan martabat untuk dihormati.
Pernahkah kita mempertanyakan mengapa seseorang rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli barang dengan merek tertentu, padahal terdapat barang lain dengan fungsi serupa yang harganya jauh lebih murah? Mengapa seseorang merasa perlu memiliki telepon genggam keluaran terbaru, mengenakan pakaian dari merek tertentu, atau mengunjungi tempat-tempat yang sedang populer dan kemudian membagikannya di media sosial? Jika semua itu hanya berkaitan dengan kebutuhan, bukankah seharusnya fungsi menjadi pertimbangan utama?
Pada tanggal 9 Maret 2026, saya membaca sebuah artikel opini di harian Kompas yang berjudul “Demokrasi di Persimpangan Pemilih.” Artikel tersebut menggugah kesadaran saya mengenai realitas demokrasi dalam konteks zaman kontemporer, khususnya di Indonesia. Secara umum, demokrasi dipahami sebagai suatu sistem pemerintahan di mana kedaulatan berada di tangan rakyat dan penyelenggaraan pemerintahan dijalankan atas dasar kehendak rakyat (Wood, 2004).
Di Indonesia, kasus kekerasan seksual setiap tahun mengalami peningkatan. Korbannya bukan hanya dari kalangan dewasa saja, tetapi sudah merambah ke remaja bahkan anak-anak (Darmini, 2021: 56). Pernyataan ini menjadi penting untuk diketahui dan disadari oleh setiap manusia, secara khusus oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut juga menjadi bagian dari penelusuran paham humanisme yang secara khusus lebih melihat sisi kaum feminin yang sering kali menjadi korban.
Situs Web Kabarbasic.com dikelola oleh Lembaga Pers Mahasiswa Basic
Surel: admin@kabarbasic.com
Our website uses cookies to improve your experience. Learn more about: Cookie Policy
Beri Balasan