Pulang Tak Pernah Sesederhana Itu: Nolan dan The Odyssey

Poster The Odyssey dari image.tmdb.org

Datang dengan ekspektasi tinggi karena nama Christopher Nolan dan jajaran pemainnya, saya tidak menyangka The Odyssey akan membuat saya semakin tertarik pada mitologi Yunani. Saya memang sedikit mengenalnya, tetapi belum pernah mendalami kisah Perang Troya maupun perjalanan pulang Odysseus. Karena itu, saya menonton tanpa tahu pasti apa yang akan terjadi, dan rasa penasaran itulah yang menjadi salah satu kekuatan film ini.

Film ini mengadaptasi epos Homer tentang Odysseus, raja Ithaca yang berusaha pulang setelah Perang Troya usai. Ceritanya dibuka ketika Odysseus terdampar di sebuah pulau dan dirawat oleh Calypso, sementara ia sendiri berusaha mengingat apa yang terjadi padanya. Di mana ia berada? Apa yang telah ia lakukan? Apakah ia masih punya rumah dan keluarga? Jawabannya tidak diberikan langsung. Penonton mengikuti Odysseus menyusun masa lalunya sedikit demi sedikit.

Pendekatan ini menempatkan penonton hampir sejajar dengan Odysseus: sama-sama mencari jawaban. Saya merasa ikut merangkai potongan cerita bersamanya. Karena kerangka kisahnya bersumber dari Homer, kekuatan film ini terletak pada cara penyajiannya, bukan sekadar ceritanya.

Kekuatan itu juga terlihat pada orang-orang yang ditinggalkan Odysseus. Selama dua puluh tahun, Penelope dan Telemachus bertahan berdua di tengah para pelamar yang mengincar takhta, menghabiskan kekayaan mereka, bahkan mengancam keselamatan Telemachus. Ketika Telemachus pergi mencari ayahnya tanpa memberi tahu sang ibu, kelegaan Penelope saat ia pulang bukan sekadar kebahagiaan, tetapi juga karena ia belum kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Bagi mereka, rumah adalah tempat yang dipertahankan sambil menunggu seseorang yang tak kunjung pulang.

Sisi emosional itu memuncak ketika Odysseus kembali ke Ithaca dengan menyamar sebagai pengemis. Di sini Nolan memainkan informasi ke arah sebaliknya. Jika di awal penonton sama-sama tidak tahu seperti Odysseus, kini penonton tahu lebih banyak daripada Penelope. Percakapan yang sebenarnya sederhana menjadi tegang karena setiap ucapan Odysseus bisa membongkar penyamarannya. Sepanjang percakapannya dengan si ‘pengemis’, Penelope bercerita tentang kesedihannya menunggu dan caranya menghindari para pelamar, padahal yang mendengarkan adalah suaminya sendiri, yang sekaligus tengah menguji kesetiaannya. Ketegangan lahir bukan karena penonton tidak tahu, melainkan justru karena penonton tahu. Bagi yang sudah mengenal epos Homer, kejutan alurnya mungkin berkurang, tetapi adegan ini bertumpu pada pengetahuan penonton, sehingga tetap bekerja.

Penampilan para pemain memperkuatnya. Matt Damon mampu membawa kebingungan dan beban Odysseus ketika perlahan mencoba mengingat kembali siapa dirinya dan apa yang telah terjadi. Sementara itu, Anne Hathaway berhasil membuat penantian Penelope selama bertahun-tahun terasa emosional, terutama melalui interaksinya dengan Telemachus yang diperankan oleh Tom Holland. Hubungan antara ibu dan anak tersebut terasa penuh kasih sayang sekaligus ketakutan, sehingga kemungkinan kehilangan satu sama lain terasa semakin nyata. Ketiganya membuat hubungan Odysseus dengan keluarganya terasa lebih dari sekadar bagian dari cerita, tetapi menjadi salah satu sumber emosi utama dalam perjalanan tersebut.

Adegan yang paling menarik bagi saya adalah pertemuan para prajurit Odysseus dengan Circe. Dalam keadaan lapar, mereka menyantap makanan dengan rakus, lalu diubah menjadi babi. Yang mengganggu bukan hanya hasil transformasinya, tetapi prosesnya: kepala mereka dibentuk seperti tanah liat hingga menyerupai kepala babi sebelum tubuhnya ikut berubah. Ketika Odysseus datang dan mereka dikembalikan menjadi manusia, Circe berkata, “Back to your disguise.” Kalimat itu membuka pembacaan lain: wujud manusia mereka adalah penyamaran, sedangkan wujud babi memperlihatkan sifat yang selama ini tersembunyi. Adegan ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap keserakahan laki-laki dari sudut pandang Circe, dan visualisasinya menyampaikan gagasan itu tanpa penjelasan panjang.

Visual dan tata suara turut membangun pengalaman menonton. Perbedaan ukuran antara manusia dan raksasa membuat ancaman mereka terasa nyata, terutama pada adegan Cyclops ketika ia memakan kepala salah satu prajurit Odysseus. Adegan itu brutal sekaligus menegangkan, dan ritme bunyi menyerupai detak jantung membuat saya semakin gelisah seiring adegan berkembang. Ketegangan tidak hanya datang dari apa yang terlihat, tetapi juga dari apa yang terdengar.

Meski begitu, ada beberapa pilihan yang sedikit mengurangi imersi. Bahasa Inggris yang sangat modern dengan aksen Amerika kurang menyatu dengan dunia Yunani kuno yang dibangun oleh film. Saya memahami pilihan itu membuat dialog lebih mudah dipahami, tetapi gaya bahasa yang lebih klasik, setidaknya di beberapa adegan, mungkin akan menguatkan nuansa epiknya. Representasi Scylla juga belum memenuhi ekspektasi saya. Dalam kisah mitologi Yunani kuno, Scylla digambarkan berkepala enam di ujung leher panjang dengan barisan gigi tajam, sehingga saya membayangkan sosok yang jauh lebih besar dan mengerikan. Film hanya menampilkannya sekilas lewat tentakel yang muncul dari bebatuan. Kesan misteriusnya tetap ada, tetapi kurang megah dibandingkan bayangan saya.

Pada akhirnya, The Odyssey lebih dari sekadar tontonan tentang perjalanan seorang pahlawan. Film ini mengajak penonton menyusun cerita bersama tokohnya sekaligus memperlihatkan perjalanan yang sama dari sudut pandang orang yang menunggu. Visual yang megah, tata suara yang intens, karakter yang kuat, dan pengelolaan informasi yang cermat membuat saya terus mengikutinya sampai akhir. Film ini layak ditonton, baik oleh penggemar Nolan maupun mereka yang baru ingin mengenal mitologi Yunani. Rasa penasarannya bertahan setelah film selesai, dan justru mendorong saya untuk mendalami kisah asli Homer.

Penyunting: Arief Kurniawan

Selly Margaretha merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret. Ia memiliki ketertarikan pada bidang komunikasi, seni, dan budaya.