Di Balik Jawaban, Sebuah Kotak Kosong

Ilustrasi oleh magnific

“Hahahaha!” Suara seseorang yang tertawa dengan lantang, sementara guru yang sedang menjelaskan sesuatu di kelas.

Hari ini, sama seperti biasanya, anak-anak kelas 12 masuk kelas. Sekilas, kita bisa melihat anak-anak yang sedang memperhatikan pelajaran dengan ‘antusias’. Tapi kalau kalian mencoba mengamati lebih lama, kalian akan sadar, dari deretan pertama, yang biasanya dikenal sebagai sarang anak-anak pintar, sampai ke deretan terakhir, tidak ada yang benar kelakuannya.

Di sudut jendela, ada dua orang yang sibuk mengobrol sambil menahan tawa. Di barisan tengah, beberapa anak sedang bermain blackjack, yang disembunyikan di balik buku pelajaran. Tidak ada satupun orang yang benar-benar memperhatikan kelas dengan baik.

Pak Bambang, guru sejarah mereka, sedang bersantai di kursi gurunya itu setelah memberi tugas. Ia tidak peduli bagaimana ributnya kelas itu, dan tidak mau peduli apakah mereka benar-benar mengerjakan tugas yang diberikan. Tapi, matanya sesekali melihat jam, jarinya mengetuk pelan, matanya terlihat cemas memburu waktu. Beberapa menit berlalu, kelas dibubarkan begitu saja. Lebih cepat dari biasanya.

Alasannya klasik, ‘saya ada kerjaan’. Begitulah kehidupan guru di sekolah. Mengajar di satu sekolah, lalu pindah ke tempat lain untuk menambah penghasilan.

Kartu-kartu dikeluarkan, ponsel muncul di meja, tidak lagi disembunyikan. Serentak beberapa orang pindah tempat duduk, entah untuk ikut main kartu, atau mengobrol. Tidak ada seorang pun yang peduli tentang pengumuman Pak Bambang tadi, kalau hari Kamis akan ujian. Termasuk aku.

Tidak ada seorang pun dari kelas kami yang peduli tentang ujian hari Kamis.

“Semalam juga beres.”

“Ngafal doang.”

Begitulah reaksi teman-teman setongkronganku.

Selasa.

Kelas-kelas masih berjalan normal, pelajaran demi pelajaran lewat, kami semua sibuk bercanda, tidak ada yang berniat mencicil untuk ujian nanti.

Rabu.

Kurasa teman-teman sekelasku baru mulai buka buku catatan di malam hari. Aku sendiri masih sibuk bermain game sampai malam, kupikir nantilah, masih ada waktu banyak.

Saat aku membuka mata, sinar matahari sudah menembus jendela kamarku, mewarnai meja. 06.19

Kamis, dan aku belum belajar sama sekali. Untung saja gampang, pikirku. Hanya butuh sekitar 15 menit setengah materi pelajaran sudah menempel di otakku.

KRINGG!

Bunyi bel itu menandakan dimulainya jam pelajaran sejarah. Buku ditutup, ponsel disimpan, dan wajah-wajah penuh dosa mendadak berubah menjadi wajah-wajah polos yang baru selesai belajar. Aku dan teman-temanku duduk anteng di deretan belakang, berpura-pura menjadi anak alim.

Pak Bambang berdiri di depan kelas sambil membagikan lembar soal.

“Ikuti instruksi dan jawab dengan baik. Kalian boleh istirahat setelah selesai mengerjakan.”

Aku merasa yakin bisa mengerjakan, bahkan aku hampir percaya kalau aku tidak butuh contekan itu. Dan benar saja, saat aku mendapatkan lembar soal, senyum menghiasi mukaku, senyum yang sama yang memenuhi muka teman-temanku. Hafalan belaka, dan kabar baiknya kami sangat pintar dalam menghafal, tentunya nilai kami akan bagus.

30 menit berlalu.

Satu demi satu, anak-anak kelas kami maju ke depan, menyerahkan kertas soal dan jawaban yang hanya seperempat lembar. Seperti biasa, nilai kami bagus, Tidak lagi mengherankan, pasalnya nilai rapor kami tidak pernah merah.

Setelah ujian selesai, semua yang pernah dipelajari, yang pernah kami hafal semalaman, hilang begitu saja, ditelan bumi.

Selalu seperti itu. Setiap bab dimulai dengan guru menjelaskan materi di depan kelas. Kami tidak memperhatikan. Ujian tiba, sistem kebut semalam belajar dimulai. Nilai keluar, bagus. Kami tertawa lega, lalu kembali melupakan semuanya.

Belajar hanya untuk ujian.

Ujian hanya untuk nilai.

Hanya untuk sebuah angka yang tertulis di kertas.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Hingga akhirnya, bulan terakhir sebelum ujian tiba.

Mungkin kalian akan membayangkan suasana yang adem ayem, satu angkatan fokus belajar dan belajar, mata hitam, raut wajah yang kelelahan, yang berlalu tanpa masalah. Tapi, angkatan kami memang beda.

Justru di detik-detik terakhir, aku dan teman-temanku sibuk nongkrong dan main game.

Kelas kami, semakin hari semakin ribut, makin tidak bisa diatur. Guru-guru juga tidak lagi mengajar kami, mungkin mereka terlalu malas mengajar untuk angkatan yang sudah mau lulus. Belakangan ini, kami masuk sekolah hanya untuk jamkos dan berbincang bersama teman, guru di kelas seolah menjadi patung pajangan di kelas yang sibuk dengan ponsel mereka.

Seminggu terakhir sebelum ujian, mulai ada beberapa temanku yang gugup dan mencoba belajar. Ada yang membuka buku, membaca catatan, atau hanya sibuk menghafal materi.

Walaupun begitu, mayoritas masih tidak terlalu peduli. Termasuk aku.

Tapi hari ini berbeda.

Setiap guru yang masuk kelas hari ini memberi fotokopi bahan ujian, dan … kami disuruh pelajari baik-baik.

Tumben sekali mereka seperti ini.

Biasanya nilai ujian kami bagus, sehingga mereka tidak terlalu peduli. Kami selalu berandai-andai mungkin mereka pikir tanpa diajari kami juga sudah bisa.

Tapi akhir-akhir ini aneh. Setiap guru yang masuk kelas membagikan fotokopi materi, pembahasan, latihan soal, bahkan soal-soal tahun lalu. Mereka terus mengingatkan kami untuk mempelajarinya baik-baik karena “kita harus menjaga citra baik sekolah” dan “jangan sampai ada yang tidak lulus”.

“Anggap saja ini ujian besok,” kata salah seorang guru.

Awalnya aku kira mereka akhirnya benar-benar peduli pada kami. Mungkin mereka ingin memastikan kami benar-benar siap menghadapi ujian.

Bahkan satu hari penuh kami hanya duduk di kursi untuk membaca bertumpuk-tumpuk materi yang akan diuji.

Tapi, yang membuatku heran, guru-guru yang biasanya duduk main ponsel, sekarang senantiasa mengawasi kami saat membaca, sangat ketat bahkan.

Kalau ada yang mengobrol ditegur,

kalau ada yang bermain ponsel, disita,

kalau ada yang ketiduran, dibangunkan.

Mata elang mereka (yang kami kira sudah pensiun) belakangan ini sering beraksi, dan TAK! sebuah spidol terbang ke kepalaku tepat sasaran.

“Baca yang serius!”

“Jangan tidur-tiduran!”

“Jangan sibuk sendiri!”

“Kalian itu sudah mau ujian, serius sedikit!”

Begitulah kira-kira omongan yang terus kami dengar sepanjang hari. Setiap ada yang mulai mengobrol, bermain ponsel, atau sekadar terlihat tidak membaca, pasti teguran akan menyusul.

Akhirnya, mau tidak mau, kami semua mendalami kertas-kertas dengan serius, bahaya kalau ketahuan. Lagipula, semua materi itu mudah dimengerti, jadi tidak ada yang begitu keberatan. Sejauh ini.

Hal ini terus berlangsung sampai hari ini, hari terakhir sebelum ujian. Kertas-kertas latihan soal dan pembahasan semakin banyak.

“Anggap saja ini ujian besok.”

Kalimat itu terus terdengar sepanjang hari.

Bahkan beberapa guru mengatakan hal yang hampir sama.

“Pelajari yang ini baik-baik.”

“Kemungkinan model soalnya tidak jauh dari ini.”

“Kalau kalian bisa mengerjakan latihan ini, harusnya aman.”

Aku hanya mengangguk. Kalau begitu, memang tinggal menghafalnya saja.

Aneh rasanya melihat guru-guru yang biasanya hampir tidak pernah peduli sekarang begitu sibuk mempersiapkan kami. Kertas-kertas latihan terus berpindah tangan, papan tulis penuh dengan pembahasan, dan guru-guru seperti tidak kehabisan bahan untuk diberikan.

Aku memasukkan semua kertas yang diberikan hari ini ke dalam tas. Begitu bel pulang berbunyi, aku dan teman-temanku langsung keluar kelas seperti biasa.

Ujian besok?

Masih nanti kok.

Kami layak mendapatkan istirahat sebentar dari semua materi-materi.

Aku baru mulai belajar setelah selesai makan malam.

Aku duduk di meja belajar dan mencoba mengumpulkan niat belajar. Aku membaca semua fotokopi itu dan menghafalkan bagian-bagian yang menurutku penting. Bukan karena aku tiba-tiba menjadi rajin, atau aku takut tidak lulus. Tapi, besok sudah ujian. Kalau aku tetap tidak belajar malam ini, rasanya keterlaluan juga.

Hampir tengah malam, aku menutup buku dan memasukkannya kembali ke tas.

Besok tinggal ujian.

Pagi datang lebih cepat dari yang kuharapkan.

Hari ini hari ujian.

Di sekolah, masih banyak anak-anak masih santai sekarang sibuk membuka catatan. Ada yang membaca sambil berdiri, ada yang duduk bergerombol sambil saling bertanya.

Bel berbunyi.

Beberapa guru masuk membawa tumpukan lembar soal.

Aku menerima kertas dari teman di depanku, lalu membaliknya.

Soal pertama.

Gampang.

Soal kedua juga masih bisa aku kerjakan.

Begitu pula soal ketiga.

Aku terus mengerjakan tanpa terlalu memikirkan apa-apa.

Sampai di soal berikutnya..

Aku membaca pertanyaannya sekali lagi. Entah kenapa, seperti pernah melihatnya.

Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Mungkin karena materinya memang sudah kubaca semalam.

Aku lanjut mengerjakan.

Beberapa nomor kemudian, perasaan itu muncul lagi.

Soal ini juga terasa familiar.

Aku mengerutkan dahi sebentar, mencoba mengingat dari mana aku pernah melihatnya.

Kayaknya soal ini ada di salah satu latihan yang diberikan guru.

Aku lanjut ke halaman berikutnya. Nomor berikutnya.

Yang ini juga.

Aku mulai merasa sedikit heran.

Tapi tetap saja, aku mengerjakannya.

Satu demi satu soal kulewati. Semakin banyak yang kubaca, semakin sering pula aku merasa pernah menemukan pertanyaan yang sama sebelumnya

Bukan hanya materinya. Bentuk pertanyaannya juga terasa familiar.

Aku mulai mengingat-ingat tumpukan fotokopi yang beberapa hari terakhir memenuhi meja belajarku.

Aku membalik halaman soal sekali lagi.

Lalu menatapnya beberapa detik.

“… Kok kayak pernah lihat, ya?”

Soal ini … Aku pernah mengerjakannya. Aku yakin.

Ada satu soal latihan dengan pertanyaan hampir sama persis. Pilihan katanya berbeda sedikit saja.

Aku melirik sekeliling kelas. Semua orang masih sibuk dengan kertas masing-masing, bahkan sudah mulai membalik ke halaman berikutnya.

Aku kembali menunduk.

Sebagian besar soal yang ada di depanku sudah pernah dikerjakan dan dibahas di kelas.

Apakah ini kebetulan?

Bodoh amat, intinya aku harus selesaikan dulu ujiannya.

Aku memeriksa jawabanku sekali lagi, lalu meletakkan pensil di atas meja.

Selesai.

Aku menyerahkan lembar jawabanku kepada guru.

Begitu keluar kelas, suasana langsung berubah. Yang tadinya semua orang duduk diam dan serius, sekarang sudah kembali ribut seperti biasa.

“Gimana ujiannya?”

“Gampang lah.”

Kami berjalan bersama sambil mendiskusikan jawaban masing-masing.

Awalnya aku hanya ikut mendengarkan. Beberapa jawaban kami berbeda, beberapa lainnya sama. Ada yang merasa salah menjawab, ada juga yang yakin jawabannya benar.

“Eh, nomor sebelas itu kayak pernah ada deh.”

“Oh iya …”

Kami mulai mengingat-ingat soal latihan yang diberikan guru beberapa hari terakhir.

“Bukannya ini ada di latsol?”

“Yang ini juga pernah dibahas.”

Aku ikut memperhatikan.

Semakin dibicarakan, semakin banyak soal yang terasa familiar. Kalau cuma satu atau dua soal yang sama, itu masih wajar. Tapi ini sudah terlalu banyak untuk sekadar kebetulan, bisa dibilang lebih dari setengahnya sebelas dua belas dengan latsol dan banyak yang sama persis.

Anehnya, tidak ada yang benar-benar merasa keberatan.

Toh, ujian sudah selesai. Tidak ada gunanya memikirkan soal-soal yang sudah lewat.

Beberapa minggu kemudian, hasil ujian akhirnya keluar.

Kami semua lulus.

Nilai-nilai kami juga cukup bagus, bahkan ada beberapa yang lebih tinggi dari perkiraan.

Seperti biasa, kami kembali membicarakan nilai, saling membandingkan, dan menertawakan hasil masing-masing.

Setelah pengumuman itu, hari-hari di sekolah terasa berbeda. Tidak banyak lagi yang perlu kami lakukan. Kami hanya datang untuk beberapa kegiatan terakhir, mengurus berbagai keperluan kelulusan, dan sesekali berkumpul bersama teman-teman.

Hari pelepasan.

Kami duduk bersama di tempat yang sudah disiapkan untuk acara. Setelah berbagai sambutan dan acara lainnya, satu per satu nama kami dipanggil untuk menerima ijazah.

Setelah semuanya selesai, kami naik ke panggung untuk foto bersama. “Siap!”

Kami tersenyum ketika kamera diarahkan kepada kami.

Klik.

Satu foto lagi.

Klik.

Lalu semuanya terasa hening.

Aku hanya berdiri di sana, melihat teman-temanku di sekelilingku.

Aku lulus.

Tiga tahun sekolah, dan akhirnya sampai juga di titik ini.

Tapi selama tiga tahun itu, sebenarnya apa yang sudah kulakukan?

Aku belajar ketika ujian sudah dekat.

Aku mengerjakan soal, mendapatkan nilai, lalu melupakan semuanya setelah ujian selesai.

Begitu terus.

Sampai akhirnya, aku berdiri di panggung ini dengan sebuah ijazah yang membuktikan bahwa aku lulus.

Bertahun-tahun kemudian, aku kembali duduk di depan sebuah meja.

Di depanku ada beberapa lembar kertas. Bukan soal ujian kali ini, melainkan daftar pekerjaan yang sudah kukirimkan.

Satu per satu lamaran sudah dikirim. Satu per satu pula jawabannya datang, kebanyakan berupa penolakan. Hari ini pun tidak berbeda.

Aku membuka email yang baru masuk.

“Terima kasih atas ketertarikan Anda, tetapi…”

Aku meletakkan ponsel di atas meja dan bersandar di kursi. Di samping laptop, ijazah yang dulu kubanggakan masih tersimpan di dalam sebuah map.

Nilai-nilaiku cukup bagus. Aku lulus.

Aku bahkan pernah merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja selama aku berhasil mendapatkan nilai yang bagus. Tapi sekarang, saat seseorang bertanya apa yang benar-benar bisa kulakukan, aku tidak tahu harus menjawab apa.

Aku membuka kembali halaman lowongan pekerjaan. Aku mengisi nama, alamat email, dan beberapa data lainnya. Sampai akhirnya aku tiba di bagian berikutnya.

“Kemampuan dan pengalaman.”

Kursor berkedip di kotak jawaban.

Aku membaca pertanyaan itu sekali lagi.

Di bawahnya ada pertanyaan lain.

“Apa kontribusi yang dapat Anda berikan kepada perusahaan?”

Lalu: “Jelaskan bagaimana Anda menyelesaikan suatu masalah yang pernah Anda hadapi.”

Aku masih belum mengetik apa-apa. Tanganku berhenti di atas keyboard.

Untuk pertama kalinya, tidak ada pilihan jawaban. Tidak ada kisi-kisi.

Kursor berkedip di kotak jawaban, seolah menungguku memberikan sesuatu yang bahkan tidak kumiliki. Dan kali ini, aku benar-benar tidak tahu jawabannya.

Aku mencoba memikirkan apa yang bisa kutulis.

Kemampuan? Aku bisa menghafal.

Pengalaman? Aku pernah mengerjakan banyak ujian.

Kontribusi?

Aku tidak tahu.

Penyunting: Amirah Nada Quranique

Nama saya Gabrielle Esther, seorang pelajar SMA di Sekolah Kristen Calvin yang berasal dari Jakarta Saya tertarik untuk berbagi karya sastra, salah satunya puisi ini, dengan pembaca Kabar Basic.