Soroti Ancaman Phubbing Di Balik Layar Gawai, Mahasiswa Matematika UB Ungkap Terkikisnya Nilai Pancasila pada Gen Z

Malang – Fenomena mengabaikan lawan bicara dalam suatu interaksi tatap muka dua arah karena lebih memusatkan perhatian pada layar smartphone, atau yang dikenal dengan istilah phubbing (phone snubbing), kini semakin lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini bukan sekadar masalah etika komunikasi biasa, melainkan telah menjadi ancaman bagi kohesi sosial dan nilai-nilai Pancasila di kalangan Generasi Z. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan psikologis seperti Fear of Missing Out (FOMO) dan tingginya intensitas penggunaan internet, yang membuat individu merasa harus selalu terhubung dengan dunia maya meski sedang berada dalam obrolan langsung. 

Berdasarkan kondisi tersebut, lima mahasiswa Program Studi Sarjana Matematika, Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) melakukan observasi lapangan terkait etika komunikasi di era digital. Melalui project mata kuliah Pancasila yang diampu oleh Andi Setiawan, S.IP., M.Si., tim yang terdiri dari Ariga Septa Pratama, Dimas Dzikrul Ghofilin, Zikry Saputra, Deva Mahendra Yudha, dan Muhammad Basuni Raihan Yanuar ini menyoroti fenomena phubbing dan dampaknya terhadap kohesi sosial generasi Z secara empiris dengan menggabungkan observasi kuantitatif sederhana dan wawancara

Suasana interaksi dan aktivitas sosial warga di Alun-Alun Kota Malang yang menjadi salah satu lokasi pengamatan tim peneliti. (Dimas)


Tingginya Penetrasi Digital dan Tekanan FoMO

Dalam kajiannya, tim mahasiswa UB menyoroti tingginya intensitas penggunaan teknologi yang melatarbelakangi fenomena phubbing. Berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,50% dan diproyeksikan menyentuh 80,66% (sekitar 229 juta jiwa) pada tahun 2025. Di kalangan akademisi atau mahasiswa, angka penetrasi ini bahkan menembus 91,27%. Data tersebut diperkuat oleh laporan Digital Indonesia 2024 yang mencatat bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari untuk mengakses internet dan media digital.

Kecanduan layar ini tidak lepas dari kondisi psikologis generasi muda yang rentan mengalami Fear of Missing Out (FoMO) atau rasa takut tertinggal informasi di dunia maya. Berdasarkan kajian tim mahasiswa UB, FoMO menyumbang pengaruh yang luar biasa besar, yaitu hingga 68,4%, terhadap munculnya perilaku phubbing. Perasaan cemas inilah yang membuat seseorang selalu impulsif mengecek notifikasi ponselnya kapan saja dan di mana saja, yang pada akhirnya merusak fokus dan empati saat mengobrol langsung dengan orang lain. 


Temuan Fakta Lapangan oleh tim: 66,7% Terlibat Phubbing 

Untuk membuktikan tingkat keparahan fenomena phubbing ini, tim melakukan observasi langsung di lapangan pada 28–29 April 2026. Observasi tersebut dilakukan di tiga lokasi berbeda dengan menilai subjek berdasarkan lima domain: (A) Atensi dan Interupsi, (B) Keterlibatan Percakapan, (C) Pola Penggunaan Perangkat, (D) Kontrol Diri dan Kebiasaan, serta (E) Respons Sosial dan Norma.

Dokumentasi wawancara dengan Arya Abimanyu, Mahasiswa Program Studi Sarjana Sains Data Angkatan 2025 Universitas Brawijaya. (Deva)

Hasil observasi menunjukan bahwa fenomena phubbing masih cukup sering ditemukan. Dari total 24 subjek yang diamati, sebanyak 16 orang (66,7%) dikategorikan sebagai pelaku phubbing. Temuan di masing-masing lokasi menunjukkan variasi yang sangat bergantung pada lokasi dan situasi lingkungan sekitar:

  • Lapangan Rektorat UB: Lokasi ini mencatat tingkat phubbing tertinggi, yakni 87,5%. Dari delapan subjek (ZS01-ZS08) yang diamati oleh Zikry Saputra, tujuh di antaranya teridentifikasi melakukan phubbing. Mayoritas subjek mencatat skor tinggi (3-4) pada domain Atensi dan Interupsi. Sifat ruang publik kampus yang informal diduga membuat subjek merasa wajar dan saling menoleransi perilaku pengabaian ini.
  • Cafe KOAT: Observasi yang dilakukan oleh Ariga Septa terhadap delapan subjek (AR1-AR8) menemukan 6 subjek (75%) sebagai pelaku phubbing. Subjek berinisial AR6 bahkan mencatat skor sangat tinggi (0,950), yang mengindikasikan penggunaan gadget non-esensial secara intens dan absennya respons sosial terhadap lawan bicaranya.
  • Alun-Alun Kota Malang: Berbeda dengan dua lokasi lainnya, observasi oleh Dimas Dzikrul di Alun-Alun menunjukkan tingkat phubbing yang jauh lebih rendah, yakni 37,5% (hanya 3 dari 8 subjek). Kondisi ini menyimpulkan bahwa ruang publik yang ramai, terbuka, dan beragam mendorong individu untuk lebih hadir secara fisik maupun sosial, sehingga mengurangi kecenderungan berfokus pada layar.
Tabel Rekapitulasi Hasil Observasi Perilaku Phubbing di Tiga Lokasi 


Dari keseluruhan observasi, tim mahasiswa UB menemukan sebuah pola perilaku yang muncul secara konsisten di berbagai lokasi pengamatan. Domain “Kontrol Diri dan Kebiasaan” memiliki nilai yang rendah, yang berarti phubbing bukan lagi sebuah pilihan sadar, melainkan kebiasaan otomatis (habitual behavior) yang sulit dikendalikan oleh para Generasi Z.

Obrolan Menjadi Hambar dan Terkikisnya Nilai Pancasila

Di balik tingginya angka pengabaian tersebut, wawancara mendalam dengan sejumlah narasumber mengungkap dampak emosional yang dirasakan oleh korban phubbing. Seluruh narasumber sepakat bahwa interaksi mereka menjadi hambar, serta menimbulkan rasa tidak dihargai, tersinggung, dan diabaikan.

Bahkan, ada narasumber yang memilih mengambil sikap tegas saat menghadapi lawan bicara yang sibuk dengan gawainya. “Apabila saya sedang berbicara dengan seseorang lalu orang tersebut sedang memiliki kepentingan lain atau membuka gadget, maka saya akan berhenti berbicara sejenak hingga mereka menutup gadgetnya, kemudian baru melanjutkan percakapan kembali,” ungkap Alvin Raihan Wildana, mahasiswa Program Studi Matematika Angkatan 2024 sebagai narasumber ketiga dalam penelitian tersebut.

Lebih jauh, tim mahasiswa ini membedah persoalan phubbing dari kacamata dasar negara. Mereka menyimpulkan bahwa perilaku digital ini secara fundamental mencederai penerapan Pancasila dalam kehidupan sosial.

Pertama, phubbing melanggar Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab). Sikap memilih layar ponsel dibandingkan mendengarkan manusia di hadapannya mencerminkan rendahnya penghormatan antarmanusia dan ketidakberadaban dalam berkomunikasi. Kedua, perilaku ini berisiko melemahkan Sila Ketiga (Persatuan Indonesia). Phubbing memicu sikap individualistis yang secara perlahan merusak kerukunan dan merenggangkan kedekatan emosional, baik di lingkungan keluarga maupun pertemanan. Tanpa interaksi langsung yang berkualitas, kohesi sosial dan semangat gotong royong generasi muda terancam mengalami degradasi.

Dokumentasi Wawancara dengan Alvin Raihan Wildana, Mahasiswa Program Studi Sarjana Matematika Angkatan 2024 Universitas Brawijaya. (Basuni)

Membangun Kembali Etika Komunikasi Generasi Z 

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, tim mahasiswa dari Program Studi Matematika ini menegaskan pentingnya menata ulang kebiasaan berkomunikasi. Sebagai langkah konkret, mereka menyarankan agar Generasi Z dapat lebih bijak mengelola perhatiannya dan tidak selalu bergantung pada smartphone, terutama ketika sedang berinteraksi langsung dengan orang lain 

Untuk mengatasi adiksi phubbing ini, masyarakat perlu kembali membangun kebiasaan komunikasi yang sehat. Langkah awalnya bisa sangat sederhana, seperti menahan diri untuk tidak bermain ponsel saat berdiskusi, berkumpul bersama keluarga, maupun saat berada di lingkungan sosial. Lebih jauh lagi, lingkungan keluarga, pertemanan, hingga institusi pendidikan diharapkan mampu menjadi ruang untuk menanamkan etika komunikasi digital ini sejak dini. 

“Melalui upaya-upaya tersebut, apabila diterapkan secara konsisten dan penuh kesadaran oleh setiap individu, maka perilaku phubbing dapat perlahan berkurang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berkurangnya perilaku tersebut, hubungan sosial antarindividu akan menjadi lebih baik, komunikasi dapat terjalin dengan lebih harmonis, serta rasa saling menghargai dan kepedulian terhadap sesama dapat semakin meningkat sehingga hal ini akan mendukung terwujudnya nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat,” tulis tim peneliti dalam kesimpulannya.

Pada akhirnya, di era yang menuntut kita untuk selalu terhubung secara virtual, memberikan perhatian penuh dan menatap mata lawan bicara bukan lagi sekadar norma kesopanan biasa. Hal sederhana itu justru menjadi cara untuk merawat karakter bangsa dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dunia nyata. 

Reporter: Muhammad Raihan Basuni Yanuar, Dimas Dzikrul Ghofilin, dan Deva Mahendra Yuda

Penulis: Zikry Saputra dan Ariga Septa Pratama

Penyunting: Arief Kurniawan

Mahasiswa Prodi Matematika UB Angkatan 2024. Saat ini bertugas sebagai Staf Tetap Divisi Humas dan Kreatif 2026 dan Asisten Pengajar Kelas Responsi di Departemen Matematika