Media Sosial Bukan Sekadar Tren: Menimbang Dampaknya terhadap Budaya Mahasiswa

Bagi sebagian anak muda, menggulir layar TikTok atau Instagram sudah seperti kebutuhan sehari-hari yang sulit ditinggalkan, dan kebiasaan ini perlahan-lahan mulai mengubah cara berbicara, gaya hidup, hingga seberapa sering mereka masih menjalankan tradisi dari kampung halaman masing-masing. Fenomena inilah yang mendorong sekelompok Mahasiswa Matematika FSTeM Universitas Brawijaya untuk melakukan penelitian lapangan secara serius, dengan mewawancarai langsung lima mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Riau, Bogor, Ponorogo, Ternate hingga Papua yang dilakukan pada tanggal 25—27 April 2026.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden merasakan adanya perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari mereka akibat penggunaan media sosial yang semakin intensif, namun menariknya budaya lokal tidak serta-merta hilang dan justru mengalami semacam dinamisasi antara gaya hidup modern dengan akar tradisi yang masih mereka pegang.

Responden Riau: Pacu Jalur Viral Hingga ke Mancanegara

Fenomena serupa juga terjadi pada responden yang berasal dari Provinsi Riau, dimana ia menjelaskan bahwa budaya daerah seperti Pacu Jalur kini semakin dikenal masyarakat luas berkat viralnya berbagai konten di media sosial yang menyebarluaskan tradisi tersebut ke berbagai penjuru.

Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi kelestarian budaya lokal, tetapi sebaliknya dapat menjadi sarana promosi yang sangat efektif jika dimanfaatkan dengan cara yang tepat dan kreatif.

“Dampak positifnya, dengan adanya media sosial, budaya lokal menjadi lebih dikenal tidak hanya di daerah tersebut, tetapi bisa dikenal lebih luas di luar daerah bahkan hingga ke luar negeri,” jelas responden asal Riau tersebut sambil memberikan contoh konkret tentang Pacu Jalur yang viral beberapa waktu lalu.

Dokumentasi wawancara dengan responden asal Riau

Bahkan yang lebih mengejutkan, para pemain sepak bola asing ikut mempopulerkan tradisi ini dengan menjadikannya sebagai selebrasi ketika mereka mencetak gol, dimana gerakan Pacu Jalur diparodikan dengan cara yang menghibur dan kemudian menjadi viral kembali di berbagai platform media sosial.

Namun demikian, responden yang sama juga mengakui adanya dampak negatif dari arus globalisasi, dimana budaya lokal mulai terasa tergerus dan tidak sekental dulu karena anak-anak muda kini cenderung malas untuk melibatkan diri dalam pelestarian tradisi.

Ia memberikan contoh tentang perubahan perilaku anak-anak di kampung halamannya yang dulu suka bermain mainan tradisional, namun sekarang karena pengaruh gawai dan media sosial mereka lebih memilih bermain game online seperti Roblox dan Free Fire, bahkan tidak sedikit yang sudah aktif bermain TikTok sejak usia dini.

Responden Ternate: Akses Luas ke Budaya Asing, Tetapi Identitas Tetap Dijaga

Salah satu responden asal Ternate mengungkapkan bahwa media sosial memberikan akses yang sangat luas terhadap berbagai budaya asing. Ia mengaku lebih mudah mengenal budaya luar, mulai dari musik, bahasa, hingga gaya hidup yang sedang populer.

Meskipun demikian, ia tetap memandang budaya lokal sebagai bagian penting dari identitas yang harus dijaga. Menurutnya, tergantung dari bagaimana kita menggunakan media sosial itu sendiri. Budaya lokal dapat tergeser jika kita sebagai pengguna hanya fokus mengikuti tren pasar luar negeri tanpa menyeimbangkan dengan tren budaya lokal.

Dokumentasi wawancara dengan responden asal Ternate

Di sisi lain, para kreator konten dan influencer juga memiliki peran penting untuk mempromosikan budaya lokal dengan memberikan contoh kecil yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjangkau seluruh pengikutnya.

Salah satu contoh yang justru menguatkan posisi budaya lokal datang dari seorang idola asal Bali yang berhasil debut di Korea dan menjadi anggota girl group Hearts2Hearts. Dalam berbagai kesempatan, ia sering memperkenalkan budaya Bali kepada teman sesama anggota dan para penggemar. Begitu pula dengan girl group baru bernama NoNa yang bergerak di pasar internasional dan kerap menghadirkan sentuhan budaya lokal dalam video musik yang dirilis.

Bahasa Daerah Mulai Tergerus Arus Modernisasi

Meskipun media sosial membawa banyak manfaat bagi kemudahan akses informasi dan komunikasi, media sosial juga memberikan tantangan tersendiri bagi kelestarian budaya lokal, terutama dalam hal penggunaan bahasa daerah yang mulai jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian besar responden mengaku bahwa lingkungan kampus yang heterogen, dimana mahasiswa berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda, memaksa mereka untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama sekaligus membuat penggunaan bahasa daerah semakin terbatas. Selain itu, kebiasaan menggunakan bahasa gaul yang populer di media sosial turut memperparah kondisi ini, karena istilah-istilah kekinian lebih sering digunakan dibandingkan kosakata bahasa daerah yang mulai perlahan dilupakan.

Responden asal Bogor, Jawa Barat, mengaku mengalami hal serupa dimana ia semakin jarang menggunakan bahasa Sunda sejak merantau ke Malang, karena lingkungan baru yang didominasi oleh pelajar dari berbagai daerah mengharuskannya beradaptasi dengan teman-teman yang tidak mengerti bahasa Sunda. “Saya tidak bisa bahasa Sunda, apalagi di perkuliahan sekarang lingkungannya dominan menggunakan bahasa Jawa, sehingga otomatis saya semakin jarang melakukan tradisi kebahasaan dari kampung halaman saya,” ujarnya dengan jujur.

Dokumentasi wawancara dengan responden asal Bogor

Responden asal Ponorogo, Jawa Timur, menjelaskan tentang kurangnya penggunaan bahasa daerah asalnya. “Sejujurnya untuk gaya berbicara, saya merasa tidak terlalu banyak berubah bukan karena anti tren, tetapi memang dari dulu gaya berbicara saya tidak pernah terlalu kental dengan logat Ponorogo,” ungkapnya sambil menjelaskan latar belakang keluarganya yang unik. Ayahnya adalah seorang keturunan Tionghoa yang tinggal di Ponorogo, sehingga sejak kecil di lingkungan rumahnya komunikasi sehari-hari tidak menggunakan bahasa Jawa yang kental melainkan lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Bahasa Jawa yang ia ketahui pun hanya sebatas dasar-dasar saja dari kosakata yang pernah ia dengar dan ia tahu artinya, sehingga tidak heran jika logat Ponorogo tidak begitu melekat pada dirinya meskipun ia lahir dan besar di kota Reog tersebut.

Dokumentasi wawancara dengan responden asal Ponorogo

Kondisi serupa juga dirasakan oleh responden asal Riau, yang menceritakan bahwa dulu setiap hari Jumat di kampung halamannya semua pelajar dari SD hingga SMA mengenakan bahasa adat Melayu, namun setelah merantau dan menjadi mahasiswa kebiasaan itu perlahan-lahan luntur dan hanya sesekali ia menggunakan bahasa daerah apabila bertemu dengan teman satu kampung.

Gaya Berpakaian dan Hobi Sebagai Tren Media Sosial yang Paling Tampak

Tidak hanya bahasa, perubahan juga terlihat jelas pada gaya berpakaian mahasiswa. Media sosial sering kali menjadi referensi utama dalam menentukan tren fashion yang sedang populer. Dari sinilah mahasiswa mendapatkan inspirasi untuk tampil sesuai dengan perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan kenyamanan.

Responden asal Ponorogo menyampaikan bahwa tren di media sosial turut mempengaruhi gaya berpakaiannya sehari-hari. Dulu ia lebih suka berpakaian santai dan sederhana tanpa banyak pertimbangan tren. Namun kini ia kadang mengikuti gaya kekinian seperti pakaian oversized dan sepatu sneakers yang sedang populer di berbagai platform media sosial. Namun, ia menegaskan bahwa ia tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan sejak kecil seperti gotong royong, rasa hormat kepada orang tua, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Responden asal Ternate memberikan pandangan yang sedikit berbeda. Ia merasa bahwa pengaruh media sosial terhadap gaya berpakaiannya tidak begitu besar karena ia pribadi lebih mengutamakan kenyamanan. Meskipun demikian, dari media sosial ia dapat menemukan beberapa kosakata baru, baik bahasa Indonesia maupun asing.

Responden asal Papua juga mengakui bahwa cara berpakaiannya mengalami perubahan yang cukup signifikan. Ia kini lebih mengikuti tren fashion modern yang sedang berkembang di media sosial dibandingkan dengan pakaian tradisional khas Papua. Ia pun mengaku perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang lebih heterogen.

Dokumentasi wawancara dengan responden asal Papua

Selain fashion, hobi mahasiswa juga ikut terpengaruh oleh konten-konten yang viral di media sosial. Responden asal Riau mengaku kini ikut-ikutan tren lari dan naik gunung karena sering melihat konten-konten tersebut di media sosial.

Responden asal Ponorogo juga mengamati fenomena menarik di sekitarnya. Orang-orang lebih hafal gerakan dance TikTok dibandingkan dengan gerakan tarian tradisional seperti Jathilan dari Ponorogo. Hal ini menunjukkan bahwa preferensi hiburan generasi muda saat ini lebih condong ke arah budaya pop yang serba cepat dan mudah ditiru. 

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelestari budaya. Jika tidak ada upaya serius untuk membuat budaya lokal terlihat lebih menarik di mata generasi muda, maka bukan tidak mungkin tarian dan kesenian tradisional akan semakin ditinggalkan.

Nilai-Nilai Budaya Masih Bertahan Kuat di Tengah Arus Perubahan

Menariknya, meskipun praktik budaya lokal seperti menari tarian tradisional, mengikuti upacara adat, atau menggunakan bahasa daerah sehari-hari mulai berkurang intensitasnya, nilai-nilai luhur budaya justru masih bertahan kuat di kalangan mahasiswa. Hal ini terlihat dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh kelima responden.

Responden asal Ponorogo menegaskan hal serupa. Meskipun ia tidak lagi sering ikut acara selamatan desa atau membantu latihan reog seperti yang biasa ia lakukan ketika masih di kampung halaman, nilai-nilai gotong royong, sopan santun kepada orang tua, dan kebiasaan saling menyapa tetangga masih sering ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari di perantauan.

Responden asal Ternate juga mengungkapkan hal yang tidak kalah menarik. Meskipun ia tidak bisa menari tarian Soya-Soya karena tarian tersebut didominasi oleh penari laki-laki, ia tetap merasa bangga setiap kali melihat tarian itu ditampilkan dalam sebuah acara atau melalui media sosial sebagai bagian dari identitas budayanya.

Responden asal Papua turut memberikan kesaksian yang paling kuat mengenai hal ini. Ia menuturkan bahwa budaya kekeluargaan di tanah kelahirannya masih sangat kental hingga kini dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua menjadi prinsip hidup yang tidak bisa ditawar. “Budaya Papua harus dipertahankan karena sifat kekeluargaan di sana masih sangat kental, karena itu merupakan identitas dan jati diri suku Papua,” tegasnya dengan penuh keyakinan.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bentuk fisik dari praktik budaya mungkin mulai ditinggalkan, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih tertanam kuat dalam diri mahasiswa. Nilai-nilai tersebut tetap menjadi pedoman dalam berperilaku sehari-hari.

Mahasiswa Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Budaya

Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswa memiliki peran yang sangat penting sebagai agen perubahan di era digital. Peran ini semakin krusial mengingat derasnya arus globalisasi yang tidak bisa dihindari. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi dan promosi budaya daerah. Jangan sampai media sosial justru menjadi alat yang menggerus budaya sendiri.

Ada beberapa hal konkret yang bisa dilakukan mahasiswa untuk melestarikan budaya

  1. Menjadi kreator konten yang menyajikan budaya lokal dengan kemasan modern, meliputi tarian, bahasa, kuliner, hingga tradisi unik dari berbagai daerah.
  2. Aktif bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa yang fokus pada kesenian daerah. Melalui wadah ini, mahasiswa bisa berlatih dan tampil secara langsung, karena keterlibatan fisik dalam kesenian sangat penting untuk menjaga otentisitas budaya.
  3. Mengadakan pentas seni atau lokakarya budaya di lingkungan kampus. Sentuhan fisik dan pengalaman langsung akan menciptakan ikatan emosional yang lebih kuat dengan budaya itu sendiri.
  4. Tetap menggunakan bahasa daerah saat bertemu dengan sesama daerah asal. Ini adalah cara paling sederhana namun sangat efektif untuk menjaga kelestarian bahasa sekaligus mengajarkan kosakata dasar kepada teman dari daerah lain.
  5. Mempelajari dan mempromosikan budaya lokal secara aktif. Semakin banyak orang yang tahu tentang suatu budaya, maka semakin besar pula peluangnya untuk lestari.

Pada akhirnya, globalisasi dan media sosial tidak perlu dipandang sebagai ancaman yang menakutkan, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat eksistensi budaya Indonesia di tengah masyarakat dunia. Keseimbangan adalah kunci utama, karena terbuka terhadap hal-hal baru itu penting untuk perkembangan diri. Namun jangan sampai keterbukaan itu membuat kita kehilangan akar dan jati diri sebagai bangsa yang kaya akan budaya.

Penulis: Syehdah Bihar Dawa Lillah
Reporter: Nafiatul Mughnisah, Nur Izza Salsabila, Salwa Aulia Yamin, Syehdah Bihar Dawa Lillah, Razita Putrina Az-Zahra.